Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Budaya

Urgensi Kajian Arkeologis bagi Pemertahanan Pengetahuan Lanskap Suku Marori Papua Selatan

89
×

Urgensi Kajian Arkeologis bagi Pemertahanan Pengetahuan Lanskap Suku Marori Papua Selatan

Share this article

Oleh: Agustinus Mahuze, S.Pd (Penggiat Budaya dan Etnik Papua)

Perubahan sosial dan ekologis yang berlangsung cepat di Papua selatan menempatkan masyarakat adat pada persimpangan penting antara keberlanjutan pengetahuan lokal dan arus modernisasi. Bagi Suku Marori, persoalan ini tidak semata tentang perubahan pola hidup, melainkan tentang hilangnya pengetahuan lanskap yang selama berabad-abad menjadi fondasi identitas, kohesi sosial, dan relasi kosmologis mereka dengan alam.

Di titik inilah, kajian arkeologis menjadi sangat urgen, bukan sekadar untuk membaca masa lalu, tetapi untuk memetakan masa depan.

Kajian arkeologis memungkinkan kita memahami bagaimana adaptasi masa lampau orang Marori membentuk cara mereka mengelola ruang, sumber daya, dan relasi sosial.

Adaptasi ini tidak lahir dari pengetahuan modern, melainkan dari pengetahuan hidup yang diwariskan secara turun-temurun melalui praktik keseharian, tutur lisan, dan ingatan kolektif. Tanpa upaya dokumentasi dan pemetaan yang sistematis, pengetahuan tersebut berisiko tereduksi, bahkan hilang.

Kier: Lanskap Kampung sebagai Pengetahuan Hidup

Dalam kosmologi Marori, kier merujuk pada lanskap kampung, yakni wilayah di sekitar pemukiman yang mencakup rumah, tata lingkungan, pekarangan, serta kebun pangan. Wilayah ini ditandai oleh tumbuhan tertentu, jalur-jalur lama, dan sisa-sisa kehidupan lampau seperti dusun sagu, mata air, serta lokasi pemakaman. Dalam tradisi Marori dikenal istilah Mundo Kier, yang menyimpan potensi besar sebagai bahan kajian arkeologis.

Pendekatan arkeologis pada lanskap kier penting untuk memetakan struktur kampung lama, pola jalan, bentuk rumah, dan pembagian lahan. Jika dibandingkan dengan kampung Marori pada masa lalu, misalnya Kampung Mbur—terlihat perbedaan signifikan dengan kampung-kampung saat ini.

Perbedaan ini bukan sekadar perubahan fisik, melainkan pergeseran pengetahuan ruang. Karena itu, kajian arkeologis diperlukan untuk menggali kembali kearifan lokal kier agar dapat menjadi rujukan dalam penataan kampung yang sensitif terhadap budaya.

Nggi Merer: Hutan Sagu dan Pengetahuan yang Tergerus

Nggi merer atau hutan sagu merupakan lanskap kunci dalam kehidupan orang Marori. Namun kini, relasi dengan sagu semakin melemah seiring perubahan pola pangan. Generasi muda mulai asing dengan wilayah-wilayah hutan sagu seperti Wosul, Winaibak, Mitataol, dan Mbinenjikier—padahal di kawasan tersebut tersimpan situs-situs sejarah penting, seperti sumur tua dan jejak permukiman lama.

Nama Kampung Wasur sendiri berasal dari kata Wosul, yang berarti sumur air. Sumur inilah yang menjadi penanda awal terbentuknya kampung. Sejarah mencatat adanya perpindahan permukiman pada periode 1950–1970-an dari kampung-kampung di sepanjang Kali Taram menuju Wosul.

Pertanyaannya, apakah Wosul dapat dikonstruksikan sebagai titik awal perkembangan lanskap sosial Marori? Arkeologi memiliki peran strategis untuk menjawab pertanyaan ini melalui penelusuran bukti material dan konteks ekologisnya.

Kepemilikan, Peta Lisan, dan Kosmologi Ruang

Hilangnya pengetahuan tentang nggi merer juga berdampak pada kaburnya pemahaman mengenai kepemilikan wilayah ulayat. Bagi orang Marori, kepemilikan tidak ditentukan oleh batas administratif, melainkan oleh peta lisan yang dibangun melalui pengalaman ruang. Peta ini bersifat imajiner namun sangat presisi, lahir dari kecerdasan kinestetik dan spasial yang diwariskan melalui tutur lisan.

Batas wilayah ulayat ditandai oleh unsur-unsur alam: gundukan tanah, pohon besar, sungai, atau tanda alam lainnya. Keterhubungan kosmologis antara manusia dan alam tercermin kuat dalam sistem ini. Oleh karena itu, kajian arkeologis perlu dilakukan sebagai fondasi pendataan wilayah yang terhubung secara kosmologis, dengan melibatkan disiplin lain seperti antropologi dan etnoekologi.

Sistem Marga dan Struktur Jalan

Aspek paling menarik dari pengetahuan spasial Marori adalah peran sistem marga dalam pengaturan ruang. Setiap marga memiliki jalur tertentu, bahkan hingga ke jalan yang digunakan menuju dusun sagu. Pada sekitar tahun 1930-an di Kampung Mbur, orang Marori berjalan menuju hutan sagu melalui jalur sesuai marganya—seperti jalur Marga Mahuze, Gebze, Ndiken, atau Samkakai. Jalur-jalur ini masih ada hingga kini, namun belum pernah dikaji secara serius.

Kajian arkeologis dengan pendekatan lanskap budaya sangat dibutuhkan untuk mendokumentasikan dan memahami struktur ini. Lebih dari itu, upaya ini menjadi langkah strategis untuk menjaga bentuk tutur lisan setiap marga agar tidak terputus oleh zaman.

Penutup

Kajian arkeologis bagi Suku Marori bukanlah proyek akademik semata, melainkan upaya pemertahanan pengetahuan hidup. Dengan memetakan kier, nggi merer, jalur marga, dan situs-situs penting seperti Wosul, arkeologi dapat menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Tanpa itu, lanskap budaya Marori berisiko tinggal sebagai fragmen ingatan—bukan sebagai pengetahuan yang hidup dan diwariskan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *