Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita

TNI-Polri Dinilai Jalankan Tugasnya Jaga Kekondusifan Sinak-Pogoma

37
×

TNI-Polri Dinilai Jalankan Tugasnya Jaga Kekondusifan Sinak-Pogoma

Share this article
Personel TNI mengevakuasi masyarakat yang menjadi korban penembakan oleh TPNPB OPM di Distrik Sinak, Kabupaten Puncak, Papua Tengah. Dok. Koops TNI Habema
Personel TNI mengevakuasi masyarakat yang menjadi korban penembakan oleh TPNPB OPM di Distrik Sinak, Kabupaten Puncak, Papua Tengah. Dok. Koops TNI Habema

Merah Pusaka Stratejik Institute (MPSI) keprihatinan atas insiden kekerasan yang terjadi di Distrik Sinak dan Distrik Pogoma sejak 13-17 April 2026, yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dari kalangan masyarakat sipil. MPSI menegaskan bahwa keselamatan warga harus menjadi prioritas utama sekaligus mengajak semua pihak menjaga situasi tetap kondusif di tengah dinamika keamanan yang masih berkembang.

“Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa masyarakat sipil adalah pihak yang paling rentan dalam konflik bersenjata. Oleh karena itu, upaya perlindungan terhadap warga harus menjadi fokus utama semua pihak, terutama pemerintah,” ujar Sekretaris MPSI, Charles Kossay, pada Senin (20/4/2026).

Menurutnya, aparat keamanan telah menjalankan tugasnya dalam merespons situasi darurat yang dipicu aksi pembakaran rumah warga dan teror bersenjata yang terjadi sebelumnya. Langkah cepat TNI-Polri dalam melakukan penegakan hukum dinilai sebagai bagian dari tanggung jawab untuk mencegah eskalasi kekerasan meluas dan memberikan rasa aman bagi masyarakat yang terdampak.

“Kami melihat aparat telah berupaya hadir di tengah situasi yang tidak mudah, dengan tujuan utama melindungi masyarakat dan memulihkan stabilitas keamanan. Dukungan terhadap langkah-langkah ini penting agar situasi tidak semakin memburuk,” jelasnya.

Di sisi lain, Charles berpendapat bahwa sinergi antara aparat keamanan, pemerintah daerah (pemda), tokoh masyarakat, dan elemen sipil lainnya memiliki posisi penting dalam menjaga kekondusifan di Sinak dan Pogoma. Kolaborasi yang kuat, diyakininya, akan membantu proses pemulihan pascainsiden, termasuk dalam penanganan pengungsi, pemulihan trauma, hingga rekonstruksi sosial.

“Kita membutuhkan kerja bersama untuk memastikan masyarakat yang terdampak mendapatkan perlindungan dan bantuan yang layak. Stabilitas keamanan harus berjalan seiring dengan pendekatan kemanusiaan,” tutupnya.

Insiden ini bermula ketika sekelompok orang tidak dikenal (OTK), yang diduga TPNPB OPM Kodap III/Sinak di bawah pimpinan Lekagak Telenggen, membakar sejumlah rumah masyarakat di Kampung Muara, Distrik Pogoma, Kabupaten Puncak, Papua Tengah, pada Senin (13/4/2026) pagi. Masyarakat pun panik dan sebagian di antaranya terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Sehari berselang, warga Pogoma yang mengungsi berkumpul di wilayah Kebru, area perbatasan Sinak dan Pogoma karena dinilai sebagai zona aman. Pada hari yang sama, aparat memulai operasi penegakan hukum sebagai respons atas pembakaran rumah warga.

Aparat gabungan berhasil mendeteksi sejumlah pelaku pembaran rumah, dengan membawa senjata api, di sekitar lokasi kejadian. Personel TNI dari Polri lalu melakukan pengejaran. Dalam proses pengejaran, pasukan Kodap III/Sinak melakukan penembakan secara membabi buta ke arah permukiman warga sehingga mengakibatkan 9 masyarakat sipil tewas.

Pada Rabu (15/4/2026), kekerasan teradi di Sinak. TPNPB OPM dilaporkan melakukan teror dan membakar rumah warga. Aparat lantas memukul mundur para pelaku ke arah sungai di ujung Kampung Muara. Sayangnya, kekerasan bersenjata oleh TPNPB OPM mengakibatkan 3 warga sipil mengalami luka tembak.

Sehari kemudian, korban luka dievakuasi ke RSUD Mulia untuk mendapatkan perawatan intensif. Pendataan jumlah korban tewas juga mulai diverifikasi. Berdasarkan laporan Komnas HAM dan tokoh masyarakat, korban tewas mencapai 12 warga sipil. Pada Jumat (17/4/2026), situasi keamanan di Sinak dan Pogoma masih dalam status siaga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *