Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Opini

Menuju Indonesia Emas 2045, Strategi Atasi Malnutrisi Anak Tak Bisa Diseragamkan

29
×

Menuju Indonesia Emas 2045, Strategi Atasi Malnutrisi Anak Tak Bisa Diseragamkan

Share this article

Ditulis oleh: Toha Saifudin

Jakarta – Target Indonesia menjadi negara maju pada 2045 masih menghadapi sejumlah tantangan serius, salah satunya persoalan gizi pada anak. Stunting, wasting, dan underweight masih ditemukan pada balita di berbagai daerah dan berpotensi memengaruhi kualitas generasi mendatang.

Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi stunting tercatat sebesar 21,5 persen. Sementara itu, angka wasting mencapai 8,5 persen dan underweight berada di level 15,9 persen. Data tersebut menunjukkan persoalan malnutrisi pada anak masih membutuhkan perhatian serius.

Selama ini, masalah gizi anak kerap diperlakukan sebagai persoalan yang memiliki penyebab serupa di seluruh Indonesia. Padahal, karakteristik setiap wilayah sangat berbeda. Faktor yang memengaruhi kondisi gizi anak di Jawa belum tentu menjadi faktor utama di Papua atau Maluku.

Karena itu, kebijakan yang menggunakan pendekatan sama untuk seluruh daerah berisiko tidak menghasilkan intervensi yang optimal.

Hal tersebut menjadi salah satu perhatian dalam penelitian berjudul “Spatial Modeling of Child Malnutrition in Indonesia Using Geographically Weighted Multivariate Regression”. Penelitian tersebut menggunakan data dari 38 provinsi berdasarkan SKI 2023.

Berbeda dengan sejumlah penelitian yang hanya berfokus pada stunting, riset ini menganalisis tiga indikator malnutrisi sekaligus, yaitu stunting, wasting, dan underweight.

Stunting berkaitan dengan kekurangan gizi kronis yang berlangsung dalam jangka panjang. Wasting menggambarkan kondisi kekurangan gizi akut, sedangkan underweight dapat mencerminkan dampak dari kondisi kekurangan gizi kronis maupun akut. Ketiganya memiliki keterkaitan dan dapat berdampak terhadap kualitas sumber daya manusia pada masa mendatang.

Setiap Wilayah Memiliki Faktor Berbeda

Dalam penelitian tersebut digunakan metode Geographically Weighted Multivariate Regression (GWMR). Metode statistik spasial ini memungkinkan peneliti melihat pengaruh suatu faktor berdasarkan karakteristik masing-masing wilayah.

Dengan pendekatan tersebut, setiap provinsi tidak diperlakukan seolah-olah mempunyai pola persoalan yang identik. Hasilnya menunjukkan terdapat sejumlah faktor yang memiliki pengaruh hampir secara umum di berbagai wilayah Indonesia.

Salah satu faktor yang menonjol adalah cakupan imunisasi dasar lengkap. Semakin baik cakupan imunisasi, semakin rendah risiko munculnya persoalan gizi pada anak.

Pengetahuan ibu mengenai pencegahan stunting juga menjadi faktor penting. Selain itu, kondisi ekonomi keluarga secara konsisten turut berkaitan dengan status gizi anak.

Namun, ketika dianalisis berdasarkan wilayah, muncul perbedaan faktor dominan yang cukup jelas.

Di wilayah Indonesia bagian barat, khususnya Sumatra dan Jawa, aspek perilaku keluarga serta akses terhadap layanan kesehatan masyarakat memiliki pengaruh lebih besar. Kepemilikan buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), ketersediaan sanitasi yang layak, serta praktik pemberian makanan pendamping ASI menjadi beberapa faktor yang perlu diperhatikan.

Khusus di Jawa, persoalan sanitasi dan penyakit seperti diare menjadi perhatian. Kepadatan penduduk yang relatif tinggi membuat kondisi lingkungan memiliki hubungan yang lebih kuat dengan kesehatan anak.

Papua dan Maluku Hadapi Tantangan Lebih Kompleks

Pola berbeda terlihat di kawasan Indonesia bagian timur. Papua dan Maluku menghadapi kombinasi persoalan yang lebih kompleks.

Faktor seperti kelahiran prematur, rendahnya cakupan imunisasi, kondisi ekonomi keluarga, serta keterbatasan pengetahuan mengenai pencegahan stunting lebih menonjol dibandingkan faktor perilaku saja.

Sementara itu, Kalimantan dan Sulawesi menunjukkan karakteristik tersendiri. Di kedua wilayah tersebut, pola pemberian makanan kepada anak dan tingkat pengetahuan ibu menjadi faktor yang relatif lebih berpengaruh.

Temuan itu menunjukkan bahwa intervensi berupa edukasi gizi serta perbaikan praktik pemberian makanan pada anak berpotensi memberikan dampak yang lebih besar di wilayah tersebut.

Kebijakan Harus Membaca Karakter Daerah

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa model GWMR memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan pendekatan statistik konvensional. Model spasial tersebut mampu meningkatkan akurasi dan menjelaskan perbedaan kondisi gizi anak antardaerah dengan lebih baik.

Temuan tersebut memperkuat gambaran bahwa persoalan malnutrisi di Indonesia tidak dapat dipahami hanya dengan melihat angka nasional. Faktor penyebab dan kondisi setiap daerah memiliki karakteristik masing-masing.

Persoalan gizi anak pada akhirnya bukan hanya mengenai kecukupan makanan. Kondisi kesehatan, ekonomi keluarga, tingkat pendidikan, lingkungan, hingga situasi sosial ikut membentuk status gizi anak.

Karena itu, kebijakan penanganan stunting, wasting, dan underweight yang diterapkan secara seragam berisiko kurang efektif. Strategi nasional perlu diterjemahkan melalui intervensi yang menyesuaikan karakteristik masing-masing wilayah.

Jika Indonesia ingin mewujudkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045, pemetaan persoalan di setiap daerah menjadi hal penting. Dengan memahami faktor yang paling dominan di suatu wilayah, kebijakan dan program penanganan gizi dapat diarahkan secara lebih tepat sasaran dan memberikan dampak yang lebih nyata bagi anak-anak Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *