Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita

Tragedi Sinak-Pogoma Rentan Dieksploitasi TPNPB untuk Diskreditkan TNI-Polri

246
×

Tragedi Sinak-Pogoma Rentan Dieksploitasi TPNPB untuk Diskreditkan TNI-Polri

Share this article
Gubernur Papua Tengah, Meki Fritz Nawipa, didampingi Danrem 173/Praja Vira Braja, Brigjen TNI Vivin Alivianto, dan Kapolda Papua Tengah, Brigjen Jermias Rontini, pada Jumat (17/4/2026), memeriksa kondisi seorang warga sipil yang menjadi korban tragedi Sinak-Pogoma, Kabupaten Puncak, Papua Tengah. Ist
Gubernur Papua Tengah, Meki Fritz Nawipa, didampingi Danrem 173/Praja Vira Braja, Brigjen TNI Vivin Alivianto, dan Kapolda Papua Tengah, Brigjen Jermias Rontini, pada Jumat (17/4/2026), memeriksa kondisi seorang warga sipil yang menjadi korban tragedi Sinak-Pogoma, Kabupaten Puncak, Papua Tengah. Ist

Direktur Eksekutif Semar Institute, Tunjung Budi, prihatin dengan rangkaian insiden berdarah di Distrik Sinak dan Distrik Pogoma, Kabupaten Puncak, Papua Tengah, yang berlangsung sejak 13 April 2026 dan mengakibatkan 12 warga sipil meninggal dunia serta 3 lainnya luka tembak. Ia pun mengecam Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Operasi Papua Merdeka (TPNPB OPM) karena tragedi tersebut bermula dari aksi pembakaran rumah warga oleh mereka.

“Kronologi ini harus dibaca secara utuh dan jujur. Sebelum ada operasi aparat, sebelum ada kontak senjata, sudah ada rumah-rumah warga yang dibakar oleh TPNPB OPM Kodap III/Sinak pimpinan Telagak Telenggen. Warga yang ketakutan akhirnya mengungsi. Itulah titik awal tragedi ini,” ujarnya, Minggu (19/4/2026).

Tunjung pun meminta masyarakat agar cermat dan memverifikasi terlebih dahulu segala informasi dan pemberitaan terkait tragedi Sinak-Pogoma. Pangkalnya, insiden ini sangat rentan dieksploitasi pihak-pihak tertentu untuk mendeskreditkan TNI-Polri yang berupaya mengendalikan situasi keamanan.

“Kejadian ini sangat mungkin di-framing untuk mendiskreditkan aparat keamanan. Apalagi, dengan adanya 12 warga sipil yang meninggal dunia. Seandainya situasi kondusif, tidak ada pembakaran, warga Pogoma tidak histeris dan mengungsi, tentu saja aparat keamanan, TNI-Polri tidak akan ke lokasi. Yang perlu diingat juga bahwa kontak senjata terjadi, yang mengakibatkan adanya korban jiwa, karena TPNPB melakukan penembakan secara sporadis ke arah permukiman ketika sedang dikejar, diburu,” tuturnya.

Jika melihat pola yang selama ini terjadi, menurut Tunjung, jaringan propaganda TPNPB OPM dan simpatisannya mulai berupaya memutarbalikkan kronologi tragedi Sinak-Pogoma dalam beberapa ke depan akan. “Mereka akan mengambil angka 12 korban jiwa, memotong konteks, dan menyajikannya seolah-olah negara yang membantai warga sipil Papua.”

“Ini adalah taktik disinformasi yang sudah berulang kali mereka gunakan. Publik, media, dan komunitas internasional harus waspada dan tidak menelan narasi sepihak itu begitu saja. Apalagi, sebelum ada verifikasi independen yang tuntas,” tandasnya.

Insiden ini bermula ketika sekelompok orang tidak dikenal (OTK), yang diduga TPNPB OPM Kodap III/Sinak, membakar sejumlah rumah masyarakat di Kampung Muara, Distrik Pogoma, Kabupaten Puncak, Papua Tengah, pada Senin (13/4/2026) pagi. Masyarakat pun panik dan sebagian di antaranya terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Sehari berselang, warga Pogoma yang mengungsi berkumpul di wilayah Kebru, area perbatasan Sinak dan Pogoma karena dinilai sebagai zona aman. Pada hari yang sama, aparat memulai operasi penegakan hukum sebagai respons atas pembakaran rumah warga.

Aparat gabungan berhasil mendeteksi sejumlah pelaku pembaran rumah, dengan membawa senjata api, di sekitar lokasi kejadian. Personel TNI dari Polri lalu melakukan pengejaran. Dalam proses pengejaran, pasukan Kodap III/Sinak melakukan penembakan secara membabi buta ke arah permukiman warga sehingga mengakibatkan 9 masyarakat sipil tewas.

Pada Rabu (15/4/2026), kekerasan terjadi di Sinak. TPNPB OPM dilaporkan melakukan teror dan membakar rumah warga. Aparat lantas memukul mundur para pelaku ke arah sungai di ujung Kampung Muara. Sayangnya, kekerasan bersenjata oleh TPNPB OPM mengakibatkan 3 warga sipil mengalami luka tembak.

Sehari kemudian, korban luka dievakuasi ke RSUD Mulia untuk mendapatkan perawatan intensif. Pendataan jumlah korban tewas juga mulai diverifikasi. Berdasarkan laporan Komnas HAM dan tokoh masyarakat, korban tewas mencapai 12 warga sipil. Pada Jumat (17/4/2026), situasi keamanan di Sinak dan Pogoma masih dalam status siaga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *