Aktivis Papua, Charles Kossay, mengutuk kekerasan yang dilakukan kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) terhadap pos KSTP Kodap XXXIII/Rumana di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya, dan di Grasberg, Tembagapura, pada 8 dan 11 Maret 2026. Sebab, kedua insiden tersebut mengakibatkan dua warga sipil meninggal dunia.
Ia menilai tindakan tersebut merupakan bentuk kekerasan yang tidak dapat dibenarkan karena telah mengorbankan masyarakat sipil yang tidak memiliki keterlibatan dalam konflik bersenjata.
“Peristiwa ini sangat memprihatinkan karena korban adalah warga sipil dan juga orang asli Papua yang bekerja untuk melayani masyarakat di daerahnya sendiri. Kekerasan seperti ini hanya memperpanjang penderitaan masyarakat Papua,” ujarnya, Jumat (13/3/2026).
Menurut Charles, aksi kekerasan TPNPB yang terus menyasar warga sipil menunjukkan bahwa masyarakat Papua justru menjadi pihak yang paling dirugikan dalam konflik yang terjadi. Ia menegaskan bahwa keselamatan warga sipil harus menjadi prioritas utama dalam setiap situasi keamanan di Papua.
“Jika masyarakat sipil terus menjadi korban, maka dampaknya akan sangat luas. Aktivitas ekonomi terganggu, pelayanan pemerintahan terhambat, dan rasa aman masyarakat semakin menurun,” jelas Sekretaris Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI) ini.
Charles berharap aparat keamanan meningkatkan perlindungan terhadap masyarakat sipil di wilayah rawan konflik sekaligus memastikan proses penegakan hukum berjalan sesuai aturan berlaku. Selain itu, ia menekankan pentingnya pendekatan dialog dan pembangunan untuk menciptakan stabilitas jangka panjang di “Bumi Cenderawasih”.
“Yang dibutuhkan masyarakat Papua adalah rasa aman, kesempatan bekerja, dan pembangunan yang berkelanjutan. Kekerasan hanya akan menjauhkan masyarakat dari masa depan yang lebih baik,” katanya.













