Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita

Kekerasan KKB di Tambrauw-Tembagapura Ancam Stabilitas Sosial dan Pembangunan Papua

43
×

Kekerasan KKB di Tambrauw-Tembagapura Ancam Stabilitas Sosial dan Pembangunan Papua

Share this article
Peneliti Pusat Kajian Geopolitik dan Pertahanan Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Heri Herdiawanto. Istimewa
Peneliti Pusat Kajian Geopolitik dan Pertahanan Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Heri Herdiawanto. Istimewa

Peneliti Pusat Kajian Geopolitik dan Pertahanan Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Heri Herdiawanto, mengecam aksi penyerangan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya, dan di Tembagapura, Papua Tengah, pada 8 dan 11 Maret 2026. Sebab, kedua insiden tersebut mengakibatkan dua warga sipil meninggal dunia.

Menurutnya, kekerasan yang menimbulkan korban dari kalangan sipil merupakan pelanggaran terhadap prinsip kemanusiaan. Selain itu, berpotensi memperburuk situasi keamanan di Papua.

“Korban dalam peristiwa ini adalah warga sipil yang bekerja sebagai pegawai honorer pemerintah daerah. Artinya, masyarakat biasa yang seharusnya dilindungi justru menjadi korban konflik,” ujarnya dalam keterangannya, Senin (16/3/2026).

Heri melanjutkan, aksi kekerasan ini tidak hanya berdampak pada keamanan, tetapi juga berpotensi menghambat pembangunan dan aktivitas sosial ekonomi masyarakat di wilayah tersebut. Pangkalnya, berbagai sektor kehidupan terdampak, dari pelayanan publik, pendidikan, hingga aktivitas ekonomi, saat masyarakat tidak lagi merasa aman.

“Ketika kekerasan terjadi secara berulang, masyarakat akan hidup dalam ketakutan. Kondisi ini dapat menghambat proses pembangunan daerah serta memperlemah kepercayaan masyarakat terhadap stabilitas keamanan,” bebernya.

Heri pun meminta aparat keamanan menjadikan perlindungan warga sipil sebagai prioritas utama. Ia juga mengajak semua pihak menahan diri dan mengedepankan pendekatan yang lebih konstruktif agar situasi kondusif.

“Kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah. Yang dibutuhkan adalah upaya membangun kepercayaan, menjaga keselamatan warga sipil, serta memastikan pembangunan di Papua dapat berjalan dengan baik demi kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.

Ia juga mengajak semua pihak terus mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, menurutnya, kita semestinya mengimplementasikan nilai-nilak peri kemanusiaan, persatuan, dan musyawarah sehingga terwujudnya keadilan sosial di Papua.

“Konflik hanya akan meninggalkan duka dan kesengsaraan, tapi perdamaian abadi akan menjadi pintu gerbang pembangunan,” kata Heri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *