Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita

MPSI Bekali Pelajar Perbatasan Papua Advokasi Non Litigasi

16
×

MPSI Bekali Pelajar Perbatasan Papua Advokasi Non Litigasi

Share this article

Jakarta – Yayasan Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI) memberikan pembekalan advokasi non litigasi kepada pelajar di kawasan perbatasan Indonesia–Papua Nugini melalui pelatihan citizen journalism dan literasi media sosial.

Kegiatan yang digelar di SMK Pertanian YPK Sota, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, Minggu (26/7/2026), itu bertujuan membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu berkontribusi dalam mengawal pembangunan daerah maupun nasional.

Koordinator Kajian Kebijakan MPSI, Annas Fitrah Akbar, mengatakan wilayah perbatasan memiliki peran strategis sebagai beranda terdepan Indonesia. Karena itu, pelajar perlu dibekali kemampuan menyampaikan informasi secara objektif, akurat, dan bertanggung jawab.

“Anak-anak muda di perbatasan jangan hanya menjadi penonton pembangunan. Mereka harus menjadi bagian dari pembangunan itu sendiri, salah satunya dengan menjadi penyampai fakta melalui citizen journalism yang objektif, edukatif, dan bertanggung jawab,” ujar Annas kepada wartawan, Senin (27/7/2026).

Menurut Annas, advokasi non litigasi merupakan pendekatan yang mengedepankan edukasi, dialog, dan penguatan kapasitas masyarakat dalam menyampaikan aspirasi tanpa harus menempuh jalur hukum. Di era digital, kemampuan memanfaatkan media sosial secara bijak menjadi salah satu sarana penting untuk berpartisipasi dalam pembangunan.

“Media sosial jangan hanya dipakai untuk hiburan atau menyebarkan informasi yang belum tentu benar. Gunakan sebagai ruang untuk memperlihatkan potensi daerah, menyampaikan persoalan masyarakat secara santun, sekaligus menghadirkan informasi yang dapat menjadi masukan bagi pemerintah dalam mempercepat pembangunan,” katanya.

Ia menilai Papua memiliki banyak potensi dan kisah inspiratif yang belum banyak diketahui publik, mulai dari semangat belajar para pelajar, inovasi di sektor pertanian, hingga kehidupan masyarakat adat yang terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Karena itu, menurutnya, pelajar dapat berperan sebagai penyampai informasi yang mampu menghadirkan gambaran Papua secara lebih utuh.

“Papua tidak boleh terus dipandang dari sisi persoalan semata. Banyak cerita tentang kemajuan pendidikan, pertanian, dan semangat generasi mudanya yang patut diketahui publik. Melalui citizen journalism, pelajar dapat menjadi duta informasi yang memperlihatkan wajah Papua yang optimistis dan terus bergerak maju,” ujarnya.

Selain pelatihan advokasi non litigasi dan citizen journalism, MPSI juga menggelar Kelas Inspirasi yang berisi motivasi pendidikan, kepemimpinan, serta dorongan bagi para siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

Sebagai bagian dari program riset advokasi, MPSI turut menyebarkan kuesioner kepada para peserta untuk memetakan motivasi belajar, akses pendidikan, tingkat literasi digital, serta pandangan mereka terhadap pembangunan di kawasan perbatasan.

“Hasil survei tersebut akan menjadi bahan analisis dan rekomendasi kebijakan MPSI dalam mendorong penguatan kualitas pendidikan dan pemberdayaan generasi muda di Papua Selatan,” jelas Annas.

Dalam kegiatan tersebut, tim MPSI juga menyerahkan paket bahan makanan kepada para siswa sebagai bentuk kepedulian sekaligus dukungan terhadap semangat mereka menempuh pendidikan di wilayah perbatasan.

Annas menegaskan, pembangunan Papua tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia yang memiliki karakter, literasi digital, kepedulian sosial, dan keberanian menyampaikan informasi secara bertanggung jawab.

“Ketika pelajar di perbatasan mampu menjadi agen informasi yang jujur, kritis, dan konstruktif, mereka sesungguhnya sedang ikut menjaga kepercayaan publik sekaligus berkontribusi terhadap keberhasilan pembangunan nasional dan kemajuan Papua,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *