Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita

Pemerintah Percepat Papua Selatan Jadi Lumbung Pangan Nasional

38
×

Pemerintah Percepat Papua Selatan Jadi Lumbung Pangan Nasional

Share this article

Jakarta – Pemerintah mempercepat pengembangan Papua Selatan sebagai salah satu pusat produksi pangan nasional melalui pembangunan kawasan pertanian modern berskala besar guna memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Berbagai dukungan telah disiapkan pemerintah, mulai dari program cetak sawah, optimalisasi lahan, penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan), hingga pembangunan infrastruktur pascapanen untuk meningkatkan produktivitas sektor pertanian.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pelaksanaan program cetak sawah tetap mengedepankan kepentingan masyarakat, termasuk menjamin status kepemilikan lahan yang tetap berada di tangan petani.

“Program cetak sawah ini merupakan aspirasi masyarakat dan seluruh lahannya tetap menjadi milik masyarakat,” ujar Amran dalam keterangannya, Minggu (5/7).

Saat ini, Papua Selatan menjadi salah satu wilayah prioritas pengembangan kawasan pangan baru nasional. Pemerintah telah mengembangkan lahan cetak sawah seluas 83.030 hektare dan optimalisasi lahan seluas 54.399 hektare di seluruh wilayah Papua.

Dari total pengembangan tersebut, Papua Selatan menjadi kawasan terbesar dengan luas lahan cetak sawah mencapai 48.934 hektare dan optimalisasi lahan seluas 53.499 hektare. Dengan demikian, hampir 100 ribu hektare lahan di wilayah tersebut dipersiapkan sebagai kawasan produksi pangan masa depan Indonesia.

Untuk mempercepat pembangunan kawasan pangan tersebut, pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp1,3 triliun pada tahun 2026. Anggaran itu digunakan untuk mendukung berbagai kebutuhan sektor pertanian, mulai dari penyediaan benih unggul, alsintan, pembangunan Rice Milling Unit (RMU), fasilitas pengering (dryer), gudang penyimpanan, hingga infrastruktur pendukung lainnya.

“Pemerintah hadir memberikan dukungan melalui pembangunan infrastruktur, alat dan mesin pertanian, benih, pendampingan, hingga menjamin hasil panen petani terserap dengan harga yang menguntungkan sesuai arahan Presiden,” kata Mentan.

Pengembangan kawasan pangan di Papua Selatan juga menjadi bagian dari transformasi menuju sistem pertanian modern yang lebih produktif dan efisien. Berbagai teknologi pertanian seperti traktor, drone pertanian, rice transplanter, combine harvester, serta peralatan modern lainnya mulai diterapkan di sejumlah wilayah, khususnya di Kabupaten Merauke.

Pemanfaatan teknologi tersebut dinilai mampu meningkatkan produktivitas gabah dari sebelumnya sekitar tiga ton per hektare menjadi antara empat hingga tujuh ton per hektare. Selain itu, indeks pertanaman yang saat ini mencapai dua kali tanam per tahun ditargetkan meningkat menjadi tiga kali tanam guna mendukung peningkatan produksi pangan secara berkelanjutan.

Kesejahteraan Petani Meningkat

Peningkatan produktivitas pertanian turut berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat. Berdasarkan data pemerintah daerah, pendapatan petani di kawasan pengembangan dilaporkan meningkat hingga 300 persen setelah memanfaatkan program cetak sawah dan mekanisasi pertanian.

Tingginya antusiasme masyarakat juga terlihat dari usulan penambahan sekitar 2.000 hektare lahan cetak sawah baru guna memperluas kawasan produksi pangan di Papua Selatan.

Pemerintah juga memastikan adanya jaminan pasar bagi hasil panen petani. Dalam skema tersebut, Perum BULOG akan berperan sebagai offtaker yang menyerap gabah dan beras petani sesuai ketentuan yang berlaku.

Untuk mendukung penyerapan hasil panen, pemerintah berencana membangun gudang BULOG di Merauke dengan kapasitas awal sekitar 3.000 ton yang nantinya dapat ditingkatkan hingga 5.000 ton. Fasilitas tersebut juga akan dilengkapi dengan dryer dan unit pengolahan beras guna menjaga kualitas hasil panen serta memperkuat rantai pasok pangan nasional.

“Mari kita bekerja keras, berkolaborasi, dan menjadikan bertani sebagai jalan menuju kesejahteraan. Bertani, Sejahtera,” tutupnya.

Pemerintah memproyeksikan nilai ekonomi kawasan pertanian di Papua Selatan yang saat ini diperkirakan mencapai Rp1,3 triliun dapat meningkat hingga Rp13 triliun per tahun apabila produktivitas mencapai tujuh ton per hektare dan indeks pertanaman meningkat menjadi tiga kali tanam setiap tahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *