Jakarta – Peneliti Senior Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI), Hendrik Arwam, menilai masa depan Papua sangat ditentukan oleh keberhasilan pembangunan sumber daya manusia, khususnya melalui peningkatan kualitas pendidikan generasi muda. Menurutnya, pembangunan yang berkelanjutan tidak cukup hanya bertumpu pada pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus didukung oleh kualitas manusia yang unggul.
Hendrik mengatakan pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang memiliki peran strategis dalam menentukan arah pembangunan suatu daerah. Karena itu, pembangunan generasi muda harus menjadi prioritas dalam setiap kebijakan pembangunan di Papua.
“Pendidikan merupakan investasi paling strategis bagi masa depan Papua. Kemajuan suatu daerah pada akhirnya ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Karena itu, pembangunan generasi muda harus ditempatkan sebagai prioritas utama dalam setiap kebijakan pembangunan,” kata Hendrik, Senin (6/7/2026).
Akademisi Universitas Papua (Unipa) tersebut menjelaskan Papua memiliki potensi sumber daya alam yang besar serta bonus demografi yang dapat menjadi modal pembangunan. Namun, menurutnya, potensi tersebut hanya akan memberikan manfaat optimal apabila diiringi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan yang merata, adaptif, dan berorientasi pada penguatan kompetensi.
“Potensi sumber daya alam dan bonus demografi tidak akan memberikan nilai tambah maksimal tanpa didukung kualitas sumber daya manusia yang baik. Karena itu, pendidikan harus mampu menghasilkan generasi yang kompeten dan siap menghadapi berbagai tantangan pembangunan,” ujarnya.
Ia menilai sistem pendidikan di Papua perlu diarahkan untuk melahirkan generasi yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga karakter kebangsaan, keterampilan hidup (life skills), kemampuan berwirausaha, serta kecakapan dalam memanfaatkan potensi lokal sebagai penggerak ekonomi masyarakat.
“Generasi muda Papua harus dipersiapkan menjadi pelaku utama pembangunan, bukan sekadar penonton di daerahnya sendiri. Pendidikan harus membangun kepercayaan diri, melahirkan inovasi, serta membekali mereka dengan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan daerah,” katanya.
Menurut Hendrik, kebijakan pendidikan di Papua juga perlu dirancang secara lebih kontekstual dengan memperhatikan kondisi sosial, budaya, dan geografis masing-masing wilayah. Pendekatan tersebut diyakini dapat meningkatkan efektivitas proses pembelajaran sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat Papua.
Selain itu, ia mendorong agar pemanfaatan Dana Otonomi Khusus (Otsus) semakin difokuskan pada program-program yang berdampak langsung terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia, seperti peningkatan kompetensi guru, perluasan akses beasiswa, pengembangan pendidikan vokasi, penguatan literasi digital, serta pelatihan keterampilan bagi generasi muda.
“Keberhasilan Otonomi Khusus seharusnya diukur dari meningkatnya kualitas hidup masyarakat Papua. Salah satu indikator utamanya adalah semakin banyak generasi muda yang berpendidikan, memiliki keterampilan, dan mampu menciptakan peluang ekonomi di daerahnya sendiri,” ujarnya.
Hendrik juga menekankan pentingnya memperluas akses pendidikan bagi anak-anak yang belum dapat menyelesaikan pendidikan formal. Menurutnya, penguatan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), pendidikan kesetaraan, dan pelatihan vokasi menjadi langkah strategis agar tidak ada generasi muda yang kehilangan kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup.
“Negara harus memastikan setiap anak Papua memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang. Pendidikan harus menjadi solusi atas berbagai persoalan sosial sekaligus instrumen untuk mencetak generasi yang produktif, berkarakter, dan berdaya saing,” katanya.
Lebih lanjut, Hendrik menegaskan keberhasilan pembangunan pendidikan tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, tokoh adat, tokoh agama, dunia usaha, serta masyarakat untuk membangun ekosistem pendidikan yang kuat dan berkelanjutan.
“Ketika seluruh pemangku kepentingan menjadikan pendidikan sebagai agenda bersama, Papua akan memiliki fondasi yang kokoh untuk melahirkan generasi emas yang mampu membawa daerahnya menuju kemajuan. Masa depan Papua pada akhirnya ditentukan oleh sejauh mana kita berhasil menyiapkan kualitas generasi mudanya mulai hari ini,” tutup Hendrik Arwam.













