Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI) menyoroti maraknya aksi penyerangan terhadap tenaga pendidik dan perusakan fasilitas pendidikan oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) dalam beberapa tahun terakhir. Sebab, teror ini menyebabkan ribuan anak Papua kehilangan hak atas pendidikan.
“Guru-guru tak berdosa, yang mengabdikan diri di daerah terpencil Papua, dalam beberapa tahun terakhir menjadi sasaran kekejian dan brutalitas KKB. Ancaman, intimidasi, hingga pembunuhan terhadap tenaga pendidik ini telah menjadi instrumen teror yang mengakibatkan kekosongan layanan pendidikan di daerah konflik,” tutur Direktur Eksekutif MPSI, Noor Azhari, dalam keterangannya pada Selasa (24/3/2026).
Sejak 2021 hingga 2026, ungkapnya, setidaknya ada lebih dari 20 kasus penyerangan terhadap guru maupun perusakan fasilitas pendidikan oleh KKB. Akibatnya, lebih dari 9 guru meninggal dunia, sedikitnya 10 guru terluka, dan layanan pendidikan terhenti.
“Penyerangan tersebut juga menganggu psikologis guru hingga para murid. Tidak sedikit guru yang meminta mutasi ke daerah lain demi keselamatan mereka. Begitu juga dengan anak-anak, yang akhirnya takut jika berangkat ke sekolah,” kata Noor.
“Maka, ketika KKB membunuh seorang guru atau membakar sebuah sekolah, mereka bukan hanya melakukan kriminal, melainkan merampas hak anak-anak Papua untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Ini adalah kejahatan kemanusiaan yang tidak boleh dibiarkan terus berlangsung tanpa respons tegas dan terkoordinasi dari seluruh pemangku kepentingan,” sambungnya.
Menurut Noor, tidak ada pembenaran politik, ideologis, maupun historis yang dapat membenarkan kekerasan terhadap pendidik dan penghancuran fasilitas pendidikan. Sebab, serangan terhadap guru dan sekolah adalah pelanggaran hukum humaniter internasional dan merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Oleh karena itu, MPSI mendorong pemerintah pusat dan daerah agar menjamin keamanan menyeluruh bagi seluruh tenaga pendidik yang bertugas di Papua. MPSI juga meminta aparat keamanan negara meningkatkan perlindungan aktif terhadap guru-guru di wilayah rawan konflik dengan memastikan respons cepat terhadap setiap ancaman.
“Masa depan Papua ada di tangan anak-anak Papua yang terdidik. Setiap satu sekolah yang tutup karena teror KKB adalah sebuah tragedi karena memukul mundur peradaban dan kemajuan Papua. Jangan biakan generasi ini dikorbankan. Kami meminta semua pihak untuk berdiri bersama melindungi hak pendidikan anak-anak Papua,” ujar Noor.













