Pemerintah dinilai berkomitmen penuh untuk membangun Papua. Hal ini tecermin dalam berbagai kebijakan, seperti pemberian dana otonomi khusus (khusus) hingga kebijakan afirmasi bagi orang asli Papua (OAP).
Oleh karena itu, menurut pengamat kebijakan publik, Ade Reza Hariyadi, perlu lebih persoalan ini secara menyeluruh dan proporsional. Tidak hanya menyoroti pengerahan aparat penegak hukum.
“Narasi bahwa negara absen di Papua perlu diluruskan dengan data dan fakta. Pemerintah pusat telah dan terus menggelontorkan sumber daya yang sangat besar untuk Papua. Tentu ada pekerjaan rumah yang masih panjang, tetapi arah kebijakannya jelas dan komitmen itu terlihat dalam alokasi anggaran, kebijakan afirmasi, hingga percepatan pembangunan yang dilakukan,” katanya, Minggu (6/4/2026).
Reza mengungkapkan, pemerintah sejak lebih dari 20 tahun lalu telah menggelontorkan anggaran yang cukup besar untuk Papua melalui otsus. Nilainya 2,25% dari plafon dana alokasi umum (DAU) nasional, dengan prioritas utama pada sektor pendidikan dan kesehatan. Sebelumnya 2% dari plafon DAU.
Selain itu, ada dana tambahan infrastruktur (DTI) untuk memperkuat konektivitas antarwilayah. Besarannya ditetapkan berdasarkan usulan provinsi setiap tahun.
“Angka ini bukan sekadar simbolis. Ini adalah investasi sistematis yang dirancang untuk mengangkat kualitas hidup orang asli Papua secara struktural dari ruang kelas hingga jalan yang menghubungkan kampung-kampung terpencil dengan pusat ekonomi,” jelasnya.
Dekan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Krisnadwipayana (FIA Unkris) itu menambahkan, kebijakan afirmasi di bidang pendidikan juga menjadi bukti komitmen negara dalam memajukan Papua. Dicontohkannya dengan LPDP Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyediakan beasiswa yang secara ekslusif diperuntukkan bagi OAP.
“Ini adalah investasi pada manusia. Ketika seorang anak Papua bisa menyelesaikan S2 atau S3 di universitas terbaik, ia tidak hanya mengangkat derajat dirinya sendiri. Ia menjadi aset pembangunan yang akan kembali dan membangun kampung halamannya. Itulah filosofi afirmasi yang sesungguhnya,” beber Reza.













