Jakarta – Di tengah hamparan Taman Nasional Wasur, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, terdapat sebuah danau yang memiliki peran sangat penting bagi kehidupan masyarakat, yakni Danau Rawa Biru. Selain menawarkan panorama alam yang masih asri, kawasan ini juga menjadi sumber utama air bersih bagi Kota Merauke.
Berdasarkan data yang dihimpun, Selasa (21/7/2026), Danau Rawa Biru berada di Kampung Rawa Biru, Distrik Sota, yang dihuni mayoritas masyarakat adat Suku Kanume. Selama bertahun-tahun, danau tersebut menjadi penopang kebutuhan air bersih yang kemudian didistribusikan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) kepada masyarakat Merauke.
Karena fungsinya yang vital, Kampung Rawa Biru kerap disebut sebagai “jantung” Kota Merauke.
Selain menjadi sumber air bersih, kawasan ini juga berkembang sebagai destinasi ekowisata yang menawarkan suasana tenang dengan lingkungan alami yang masih terjaga. Wisatawan dapat menikmati keindahan alam sekaligus menyaksikan kehidupan masyarakat adat yang hidup berdampingan dengan kawasan konservasi.
Masyarakat Kampung Rawa Biru, yang didominasi Suku Kanume, menggantungkan hidup dari hasil berburu, berkebun, menangkap ikan, dan memanfaatkan hasil hutan secara tradisional.
Kaum laki-laki umumnya berburu satwa seperti kanguru, rusa, babi hutan, hingga kasuari untuk kebutuhan konsumsi keluarga. Sebagian bagian tubuh satwa, seperti bulu dan kulit, juga dimanfaatkan sebagai perlengkapan busana adat.
Sementara itu, kaum perempuan lebih banyak beraktivitas menjala ikan di rawa, mengelola kebun tanaman pangan seperti betatas dan kumbili, serta mengurus kebutuhan rumah tangga.
Keberadaan Danau Rawa Biru menjadi bukti bahwa kawasan konservasi mampu memberikan manfaat ekologis sekaligus mendukung kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar.
Secara hidrologis, Danau Rawa Biru memiliki daerah aliran sungai seluas sekitar 4.791,671 kilometer persegi dengan luas badan air mencapai 95 hektare.
Keunikan lain dari danau ini adalah karakter ekosistemnya yang bersifat amphibius, yakni mengalami perubahan mengikuti musim.
Saat musim hujan, Rawa Biru berubah menjadi aliran sungai yang mengalir menuju kawasan sekitarnya. Sebaliknya, ketika musim kemarau tiba, kawasan tersebut berubah menjadi danau dangkal dengan karakteristik ekosistem yang berbeda.
Perubahan kondisi tersebut memengaruhi kehidupan organisme air, termasuk fitoplankton yang mengalami perubahan distribusi dan tingkat kelimpahan sesuai perubahan musim.
Dengan fungsi sebagai sumber air bersih, habitat berbagai jenis ikan air tawar, sekaligus destinasi ekowisata, Danau Rawa Biru menjadi salah satu aset penting di kawasan Taman Nasional Wasur yang perlu terus dijaga kelestariannya demi keberlangsungan lingkungan dan kehidupan masyarakat Papua Selatan.













