Jakarta – Pejabat Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Merauke, Sukito, menilai pendidikan nonformal berbasis komunitas memiliki peran penting dalam membangun karakter kebangsaan generasi muda Papua di tengah pesatnya perubahan sosial dan perkembangan teknologi.
Hal itu disampaikannya dalam Konsultasi Publik bertajuk “Perumusan Model Pendidikan Nonformal Berbasis Komunitas, Pendampingan Belajar, dan Pengasuhan yang Berakar pada Budaya Lokal dalam Menjaring Aspirasi, Menyelaraskan Aksi, Mewujudkan Generasi Papua Unggul” yang diselenggarakan Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI) di Aula Anim Ha, Merauke, Jumat (24/7/2026).
Menurut Sukito, generasi muda saat ini menghadapi beragam tantangan, mulai dari masuknya budaya asing, penyalahgunaan media sosial, penyebaran hoaks, meningkatnya sikap intoleransi, hingga memudarnya semangat gotong royong. Karena itu, penguatan karakter tidak cukup dilakukan melalui pendidikan formal, tetapi juga perlu ditopang oleh pendidikan yang tumbuh di tengah masyarakat.
“Karena itu, pendidikan nonformal berbasis komunitas menjadi sarana yang penting untuk membangun karakter, memperkuat rasa persatuan, serta meningkatkan kohesi sosial di tengah masyarakat,” ujarnya.
Ia menegaskan pengembangan pendidikan berbasis komunitas membutuhkan sinergi berbagai pihak. Menurutnya, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri sehingga diperlukan keterlibatan perguruan tinggi, lembaga pendidikan, tokoh adat, tokoh agama, organisasi masyarakat, dunia usaha, media, hingga generasi muda.
Sukito mengatakan nilai-nilai Pancasila, semangat gotong royong, pelestarian budaya lokal, serta pemanfaatan teknologi secara positif harus menjadi bagian dari strategi bersama dalam membentuk karakter generasi muda, khususnya di Papua Selatan.
“Penguatan nilai-nilai Pancasila, semangat gotong royong, pelestarian kearifan lokal, serta pemanfaatan teknologi secara positif harus menjadi bagian dari strategi bersama dalam membentuk karakter generasi muda, khususnya di Papua Selatan,” jelasnya.
Menanggapi berbagai masukan mengenai kondisi pendidikan di Papua Selatan, Sukito mengungkapkan pemerintah daerah telah memenuhi sejumlah persyaratan administratif untuk memperoleh tambahan alokasi Dana Otonomi Khusus (Otsus). Dana tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan di berbagai wilayah.
“Kami berharap tambahan Dana Otsus nantinya dapat dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan mutu pendidikan, memperluas akses layanan pendidikan, serta menjawab kebutuhan masyarakat hingga ke wilayah kampung,” katanya.
Ia menambahkan pemerintah juga telah memberikan kesempatan kepada sejumlah anak berprestasi dari kampung untuk melanjutkan pendidikan di kota. Selain itu, beberapa sekolah telah ditetapkan sebagai pilot project sekaligus sekolah penampung guna mendukung pemerataan layanan pendidikan di daerah.
Menurut Sukito, persoalan kekurangan tenaga pendidik di kampung masih menjadi tantangan yang terus dibenahi. Pemerintah saat ini tengah menyelesaikan status guru honorer yang belum memiliki kepastian, sekaligus merekrut guru kontrak untuk mengisi kekosongan akibat banyaknya guru yang memasuki masa pensiun.
“Pemenuhan tenaga pendidik menjadi salah satu prioritas agar layanan pendidikan di kampung tetap berjalan dengan baik. Kami terus berupaya memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas,” ujarnya.
Sukito menegaskan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia harus menjadi perhatian utama di tengah percepatan pembangunan yang berlangsung di Papua Selatan. Menurutnya, pendidikan merupakan fondasi penting untuk melahirkan generasi yang memiliki karakter kebangsaan kuat sekaligus mampu memanfaatkan berbagai peluang pembangunan.
“Karakter kebangsaan, kohesi sosial, dan kolaborasi seluruh elemen masyarakat merupakan fondasi penting dalam mewujudkan masyarakat yang harmonis. Jika pendidikan terus diperkuat, kita optimistis dapat mempersiapkan generasi Papua yang berkarakter, berdaya saing, dan mampu berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045,” pungkas Sukito.













