Jakarta – Kementerian Koordinator Bidang Pangan mendorong pengembangan program Desa Tematik untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Melalui program ini, setiap desa diarahkan mengembangkan komoditas unggulan berdasarkan potensi sumber daya yang tersedia di wilayah masing-masing.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan desa harus didorong agar tidak hanya menjadi penerima berbagai program pemerintah, tetapi mampu menjadi pusat produksi pangan yang mandiri.
“Kita mengembangkan tiap desa harus mandiri pangan lewat program desa tematik, apakah itu wisata, ikan, beras dan lain-lain,” kata Zulkifli Hasan saat kunjungan ke Universitas Pattimura (Unpatti) di Ambon, Maluku, dilansir Antara, Sabtu (5/9/2026).
Menurut Zulhas, pemerintah secara bertahap menyiapkan puluhan ribu desa untuk menjadi bagian penting dalam menopang ketahanan pangan dari tingkat pemerintahan paling bawah.
Konsep Desa Tematik akan disesuaikan dengan karakteristik dan keunggulan masing-masing daerah. Pengembangannya dapat berbasis pertanian, perikanan, budi daya ikan, maupun sektor lain yang mampu memenuhi kebutuhan pangan sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.
Zulhas menilai penguatan produksi pangan dalam negeri juga berkaitan erat dengan perlindungan terhadap petani. Ketergantungan pada produk impor dinilai dapat menekan harga komoditas lokal dan berisiko merugikan pelaku usaha pangan dalam negeri.
“Kalau kita impor, petani kita jadi korban, karena mereka akan tertimpa rugi. Usahanya tidak untung. Oleh karena itu, swasembada pangan penting untuk melindungi petani kita,” ujarnya.
Dorong Budi Daya Ikan Berbasis Teknologi
Untuk Desa Tematik Perikanan dan Budi Daya Ikan Tematik, pemerintah turut mendorong penggunaan teknologi yang dapat disesuaikan dengan kondisi geografis setiap wilayah.
Salah satu teknologi yang diperkenalkan ialah Mini Recirculating Aquaculture System (RAS). Sistem tersebut memungkinkan air dalam kolam budi daya disirkulasikan kembali sehingga penggunaan air dan lahan dapat ditekan.
Ikan lele dan nila menjadi komoditas yang dinilai potensial untuk dikembangkan melalui skema tersebut. Selain memenuhi kebutuhan protein masyarakat, hasil budi daya juga dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi warga desa.
Produksi dari Desa Tematik nantinya diarahkan untuk terhubung dengan program pemenuhan gizi pemerintah. Salah satunya melalui penyediaan bahan pangan bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Zulhas menekankan pengembangan Desa Tematik membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Perguruan tinggi dinilai memiliki peran strategis karena mempunyai kapasitas dalam penelitian, pengembangan teknologi hingga penyediaan sumber daya manusia.
Khusus di wilayah kepulauan seperti Maluku, kolaborasi dengan Universitas Pattimura dianggap penting untuk mengembangkan kampung nelayan, budi daya perikanan serta memperkuat rantai pasok pangan dan protein di kawasan timur Indonesia, termasuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
“Kampus harus menjadi tempat untuk berdiskusi dan mengkritisi kebijakan. Kita belajar cepat, karena persoalan bangsa membutuhkan solusi yang cepat,” kata dia.
Bangun Ekosistem dari Hulu ke Hilir
Pemerintah tidak ingin Desa Tematik hanya mengejar peningkatan jumlah produksi. Lebih dari itu, program tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem pangan yang terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir.
Dengan adanya kepastian pasar, hasil produksi masyarakat diharapkan tidak berhenti di tingkat desa. Produk pangan yang dihasilkan dapat terserap oleh berbagai program pemerintah maupun pasar yang lebih luas sehingga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Melalui pendekatan tersebut, desa diharapkan berkembang menjadi basis produksi pangan yang kuat sekaligus memperluas sumber pasokan pangan nasional.
Program ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap pangan dari luar negeri. Pengembangannya akan dilakukan secara bertahap di puluhan ribu desa dengan mempertimbangkan potensi sumber daya, karakteristik wilayah, serta kebutuhan pangan masing-masing daerah.













