Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Budaya

Selamatkan Warisan Amungme dan Kamoro, Pemkab Mimika Gelar Festival Spektakuler dan Borong Puluhan Sanggar Seni!

38
×

Selamatkan Warisan Amungme dan Kamoro, Pemkab Mimika Gelar Festival Spektakuler dan Borong Puluhan Sanggar Seni!

Share this article
Festival Seni Budaya Mimika

Jakarta – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika, Papua Tengah, mengambil langkah konkret untuk membentengi kelestarian tradisi lokal melalui perhelatan Festival Seni Budaya Mimika 2026. Ajang tahunan ini difokuskan sebagai wadah edukasi sekaligus ajang membakar semangat generasi muda dalam menjaga warisan leluhur Suku Amungme dan Kamoro.

Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM Bupati Mimika, Fransiskus Bokeyau, menggarisbawahi komitmen pemerintah daerah untuk terus mendukung para seniman dan pelaku budaya lokal secara berkelanjutan.

“Ini merupakan wujud nyata upaya pemerintah dalam memajukan kebudayaan dan kesenian sebagai perwujudan dari strategis pemajuan kebudayaan daerah yaitu perlindungan, pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan,” ujarnya di Timika, Selasa (6/10/2026).

“Melestarikan budaya berarti menjaga akar hingga tumbuh tunas baru. Kita harus bangga dengan tradisi kita namun juga harus terbuka untuk berekspresi dan berinovasi,” katanya.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Mimika, Elisabeth Cenawatin, mengungkapkan bahwa festival yang digelar pada 5–8 Oktober 2026 ini bertepatan dengan perayaan HUT ke-30 Mimika dan Hari Kebudayaan Nasional. Lebih dari sekadar ajang pertunjukan, festival ini juga disetting untuk mendongkrak denyut ekonomi kreatif warga.

“Kegiatan ini untuk menjaga, mempromosikan, melestarikan adat dan budaya dua suku yakni Suku Amungme dan Suku Kamoro. Program ini akan kami lakukan setiap tahun, tahun ini kami melakukan kegiatan ini dengan menampilkan ukiran, anyaman, tari-tarian dan juga kuliner lokal khusus dari Suku Amungme dan Suku Kamoro,” katanya.

“Kegiatan ini sangat baik untuk anak anak muda supaya mereka tidak lupa akan adat dan budaya mereka, pun dengan musik dan cerita rakyat,” ujar Elisabeth.

Kemeriahan festival ini melibatkan 30 sanggar seni dan UMKM ekraf, serta menarik antusiasme pelajar dari 29 sekolah tingkat SMP, SMA, hingga SMK di Kota Timika melalui berbagai kompetisi peragaan busana adat, musik tradisional, hingga lomba cerita rakyat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *