Jakarta – Dinas Perindustrian Kabupaten Nabire, Papua Tengah, mendorong keberlanjutan pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) dengan melibatkan pelaku usaha Orang Asli Papua (OAP) yang telah berkembang sebagai instruktur bagi peserta pemula.
Kepala Bidang Industri Logam, Mesin, Elektronika dan Aneka (ILMEA) Dinas Perindustrian Nabire, Jenie YR Kawer, mengatakan program pelatihan tahun ini terdiri atas 10 kegiatan yang disertai bantuan peralatan usaha.
“Kegiatan tersebut dilaksanakan di sejumlah distrik, dengan jenis pelatihan disesuaikan dengan potensi dan kebutuhan usaha masyarakat. Jumlah peserta bervariasi antara 20 hingga 25 orang, bergantung pada jenis kegiatan,” katanya di Nabire, dikutip dari Antara, Jumat (16/10/2026).
Menurut Jenie, keberlanjutan program tersebut terlihat di Distrik Wanggar. Sejumlah kelompok usaha keripik di wilayah itu telah rutin memproduksi makanan olahan, sementara pelaku usaha yang lebih berpengalaman mulai membagikan keterampilan kepada peserta yang baru merintis usaha.
Produk yang dihasilkan antara lain keripik pisang, keladi, ubi jalar, dan singkong dengan pilihan rasa manis, pedas, serta original.
Pada pelatihan tahun ini, Dinas Perindustrian melibatkan pengusaha OAP yang telah menjalankan usahanya untuk membimbing peserta pemula.
“Jadi yang sudah berjalan ini, dia melatih yang baru pemula. Ini menjadi bukti bahwa keberlanjutan program Dinas Perindustrian telah berdampak bagi pengusaha OAP,” katanya.
Selain pengolahan keripik, terdapat pula usaha pembuatan kecap yang telah beroperasi sekitar dua tahun. Pelaku usaha yang sebelumnya mengikuti pelatihan juga dipersiapkan menjadi instruktur untuk kegiatan selanjutnya.
Jenie menjelaskan, pola pendampingan tersebut membuka kesempatan bagi pelaku usaha berpengalaman untuk menularkan keterampilan kepada masyarakat lainnya. Dengan demikian, pengetahuan yang diperoleh melalui pelatihan dapat terus diterapkan dan dikembangkan oleh pelaku IKM.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Nabire mengalokasikan dana Otonomi Khusus (Otsus) sebesar Rp3,6 miliar untuk mendukung pengembangan IKM milik OAP. Anggaran tersebut digunakan untuk membiayai pelatihan dan bantuan peralatan di sejumlah distrik.
Program pengembangan itu mencakup beragam bidang usaha, mulai dari menjahit, servis elektronik, ukir kayu, pembuatan keripik, instalasi listrik, pengolahan sari gula jahe, depot air minum, pembuatan batako, bakso buah merah, kecap, hingga batik Papua.













