Jakarta – Dua remaja asal Kabupaten Supiori, Papua, Yuliana Taran dan Jein Kesya Novita Rumbewas, memilih meninggalkan tanah kelahirannya setelah lulus SMP demi mengejar pendidikan yang lebih tinggi. Ribuan kilometer dari Papua, keduanya melanjutkan sekolah di Bandung melalui program Beasiswa Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM).
Tiga tahun menjalani pendidikan di SMA KP Margahayu, Kabupaten Bandung, akhirnya mengantarkan Yuliana dan Jein Kesya hingga jenjang perguruan tinggi. Keduanya kini tercatat sebagai mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad) setelah berhasil mendapatkan Beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik).
Bagi Yuliana, keputusan untuk melanjutkan pendidikan di luar Papua berawal dari keinginannya mendapatkan pengalaman baru. Meski sempat mendapat keberatan dari orang tua karena jarak yang begitu jauh, tekad Yuliana akhirnya membuat keluarganya memberikan izin.
”Motivasinya, aku ingin mencari pengalaman di luar Papua. Setelah tahu ada beasiswa ADEM, sejujurnya orang tua aku awalnya tidak mengizinkan karena memang jaraknya sangat jauh. Tapi setelah melihat bagaimana saya bertekad dan mengusahakan beasiswa itu, akhirnya diizinkan. Setelah 3 tahun di Bandung dan sudah sedikit mengenal budayanya, saya ingin melanjutkan kuliah di sini, dan puji Tuhan diterima di Unpad melalui beasiswa ADik,” ujar Yuliana yang merupakan alumni SMN 6 Pariem Distrik Supiori Timur.
Keinginan serupa juga dirasakan Jein Kesya. Ia terdorong mengikuti jejak sejumlah kakak kelasnya yang sebelumnya mendapatkan beasiswa ADEM dan berkesempatan mengenyam pendidikan di luar Papua.
“Saya melihat, oh kakak-kakak itu bisa ke luar Papua. Terus aku kalau mau punya pengalaman baru, juga harus ke luar. Saat izin ke orang tua, puji Tuhan diizinkan. Akhirnya, sampai di sini,” ujar Jein Kesya.
Yuliana dan Jein Kesya merupakan bagian dari 19 mahasiswa penerima Beasiswa ADik yang diterima di Unpad. Program ADik bersama ADEM menjadi bentuk kebijakan afirmasi pemerintah untuk memperluas kesempatan pendidikan bagi anak-anak Indonesia yang berasal dari wilayah Papua, daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), serta anak-anak pekerja migran Indonesia yang masuk dalam kategori repatriasi.
Program tersebut ditujukan bagi pelajar yang menghadapi kendala geografis maupun keterbatasan ekonomi, sehingga tetap dapat memperoleh akses terhadap pendidikan berkualitas.
Beasiswa ADEM berada di bawah penyelenggaraan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), sedangkan Beasiswa ADik dikelola Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Punya Cita-cita untuk Papua
Yuliana merupakan anak kedua dari lima bersaudara. Ia berasal dari keluarga dengan ayah yang bekerja sebagai nelayan dan ibu yang berprofesi sebagai pendeta. Sementara Jein Kesya adalah anak kedua dari empat bersaudara. Ayahnya juga bekerja sebagai nelayan, sedangkan ibunya merupakan ibu rumah tangga.
Di Unpad, keduanya memilih bidang studi yang berbeda. Yuliana mengambil Program Studi Kesejahteraan Sosial di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), sementara Jein Kesya memilih Program Studi Biologi di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).
Pilihan Yuliana terhadap Kesejahteraan Sosial tidak lepas dari latar belakang pendidikannya ketika SMA. Selain itu, ia memiliki keinginan untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat Papua setelah menyelesaikan kuliahnya.
“Sebenarnya tidak ada alasan khusus mengapa aku pilih Kesos. Tapi karena di SMA aku jurusan IPS, jadi Kesos sudah tidak asing lagi. Aku juga ingin mengabdi ke masyarakat, apalagi di daerah Papua nanti setelah lulus,” ujar Yuliana yang memiliki ketertarikan di dunia public speaking.
Berbeda dengan Yuliana, Jein Kesya memiliki cita-cita menjadi tenaga pendidik di Papua. Selama menempuh pendidikan di Unpad, ia berencana memperkaya pengalaman dengan aktif mengikuti berbagai kegiatan di luar perkuliahan, termasuk ekstrakurikuler yang berkaitan dengan sains dan olahraga bola basket.
Keduanya mengaku bersyukur mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan melalui program beasiswa pemerintah. Bantuan tersebut tidak hanya membuka akses pendidikan yang lebih luas, tetapi juga meringankan beban ekonomi keluarga.
Kesempatan menjadi mahasiswa Unpad pun menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka. Jein Kesya bahkan mengaku masih tidak menyangka dapat diterima di perguruan tinggi yang menjadi pilihan pertamanya.
“Rasanya luar biasa, pokoknya kayak nggak nyangka bisa masuk ke kampus pilihan pertama ini,” ujar Jein Kesya.
Perasaan bangga juga dirasakan Yuliana. Sebagai mahasiswa baru, ia mengakui sempat menghadapi tantangan ketika harus menyelesaikan berbagai tugas dengan tenggat waktu yang cukup ketat. Namun, hal tersebut tidak membuatnya menyerah.
“Ini merupakan suatu kebanggaan bagi saya jadi mahasiswa Unpad, bangga banget. Jadi walau ada rasa capek, tetap nggak terlalu dirasa,” ujar Yuliana.
Selain mendapatkan dukungan biaya pendidikan melalui Beasiswa ADik, Yuliana dan Jein Kesya juga memperoleh fasilitas tempat tinggal di Bale Wilasa I, salah satu asrama yang disediakan Unpad bagi mahasiswa penerima beasiswa tersebut.
Penyediaan fasilitas asrama menjadi bagian dari upaya Unpad menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif. Dengan dukungan tersebut, mahasiswa dari berbagai latar belakang diharapkan memiliki kesempatan yang setara untuk menjalani pendidikan tinggi dalam suasana yang aman, nyaman, dan mendukung proses belajar.













