Jakarta – Bagi sebagian anak, masa kecil tidak selalu berjalan dengan mudah. Keterbatasan ekonomi, kehilangan orang terdekat, hingga pengalaman kurang menyenangkan di sekolah dapat menjadi bagian dari perjalanan hidup sejak usia dini.
Hal tersebut juga dialami Citra Nur Rahmadani, siswi berusia 10 tahun di Sekolah Rakyat Terintegrasi 67 Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan.
Di balik keceriaannya saat ini, Citra menyimpan pengalaman panjang yang membentuk dirinya. Sebelum bersekolah di Sekolah Rakyat, ia sempat membantu sang ibu mencari penghasilan dengan berjualan kacang sepulang sekolah.
Kondisi keluarga yang terbatas membuat Citra harus belajar memahami keadaan lebih cepat dibandingkan anak-anak seusianya. Ia juga pernah mengalami perundungan di sekolah yang membuatnya cenderung menutup diri.
Ujian lain datang ketika ayah yang sangat dekat dengannya meninggal dunia. Kehilangan tersebut tidak hanya meninggalkan kesedihan bagi Citra, tetapi juga membuat sang ibu, Hajrah, harus bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Hajrah masih mengingat bagaimana dekatnya Citra dengan ayahnya sebelum sang ayah meninggal.
“Citra itu waktu meninggal bapaknya sedih, karena dia lengket sama bapaknya,” tutur Hajrah, dalam wawancara dengan Bakom RI, ditulis Rabu (12/8).
Sejak kehilangan suaminya, Hajrah menjalani berbagai pekerjaan demi mempertahankan kehidupan keluarganya. Ia bekerja sebagai petugas kebersihan masjid pada pagi hari, kemudian melanjutkan pekerjaan sebagai buruh rumah tangga.
“Sakit karena kita sendiri cari uang,” ujarnya.
Sekolah Rakyat Membuka Harapan Baru
Di tengah kondisi tersebut, Hajrah tetap menyimpan satu keinginan besar untuk putrinya. Ia ingin Citra mendapatkan kesempatan pendidikan yang lebih baik dan mempunyai masa depan yang berbeda dari kehidupan yang selama ini dijalaninya.
Kesempatan itu datang ketika Citra diterima sebagai siswi Sekolah Rakyat Terintegrasi 67 Pangkajene dan Kepulauan.
Lingkungan baru secara perlahan membuat Citra kembali menemukan kepercayaan dirinya. Ia mendapatkan teman-teman yang dapat menerimanya, sekaligus dukungan dari para guru.
Bagi Citra, sekolah tersebut kemudian menjadi lebih dari sekadar tempat menimba ilmu. Lingkungan yang mendukung membuatnya kembali berani berkembang dan memiliki keyakinan terhadap kemampuan dirinya.
Perubahan tersebut turut dirasakan oleh Hajrah. Ia melihat putrinya menjadi lebih rajin belajar, semakin disiplin menjalankan ibadah, serta mulai tumbuh menjadi anak yang mandiri.
“Citra itu masuk sekolah rakyat, rajin belajar, rajin salat. Saya bangga sekali dia masuk di sekolah rakyat itu,” kata Hajrah.
Kebahagiaan Hajrah bukan hanya karena putrinya mendapatkan tempat belajar baru. Ia merasa perjuangan yang selama ini dilakukan mulai memperlihatkan hasil ketika melihat Citra tumbuh lebih percaya diri.
Perjalanan mereka memang tidak singkat. Keduanya harus melewati kehilangan sosok ayah, persoalan ekonomi, hingga pengalaman perundungan yang pernah membuat Citra terpuruk.
Kini, Hajrah hanya ingin putrinya terus melangkah dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
“Citra harus lebih sukses, tidak kayak Mama,” ucap Hajrah.
Harapan tersebut menjadi gambaran besarnya keinginan seorang ibu agar anaknya tidak perlu menjalani kehidupan penuh keterbatasan seperti yang pernah ia rasakan.
Hajrah ingin Citra dapat mengenyam pendidikan setinggi mungkin, mengembangkan potensi, dan pada akhirnya mampu hidup mandiri.
Sementara bagi Citra, perjuangan sang ibu menjadi alasan untuk terus melangkah. Ia menyadari bahwa selama ini Hajrah menjadi sosok yang paling kuat mendampinginya setelah kepergian sang ayah.
Dengan penuh haru, Citra pun menyampaikan rasa terima kasih kepada ibunya.
“Mama, terima kasih karena telah membesarkan kami, menjaga kami semenjak kepergian Bapak. Saya sangat berterima kasih kepada Mama atas perjuangan Mama. Terima kasih, Mama. Aku sayang Mama,” ucapnya.













