Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita

Tarik Tambang Bareng Warga Asmat, Cipayung Plus Merauke Gaungkan Persatuan

34
×

Tarik Tambang Bareng Warga Asmat, Cipayung Plus Merauke Gaungkan Persatuan

Share this article

Jakarta – Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) di Merauke berlangsung dengan cara yang sederhana namun sarat pesan kebangsaan. Organisasi kepemudaan yang tergabung dalam Cipayung Plus Merauke memilih merayakan kemerdekaan bersama masyarakat Suku Asmat melalui lomba tarik tambang.

Suasana akrab terlihat saat para aktivis muda dan masyarakat berbaur dalam perlombaan. Canda, tawa, dan semangat memenuhi lokasi kegiatan.

Bagi para peserta, tarik tambang bukan sekadar perlombaan. Kegiatan tersebut menjadi simbol bahwa momentum kemerdekaan dapat menjadi ruang untuk mempererat hubungan masyarakat tanpa memandang perbedaan latar belakang.

Ketua Umum HMI Cabang Merauke, Irwan, mengatakan kegiatan sengaja dibuat sederhana agar masyarakat dapat merasakan langsung suasana perayaan kemerdekaan.

“Tarik tambang ini memang sederhana, tetapi maknanya besar. Kita berkumpul bersama masyarakat, tertawa bersama, berkompetisi secara sehat dan membangun persaudaraan. Bagi kami, inilah salah satu cara menghadirkan semangat kemerdekaan secara nyata,” ujarnya.

Menurut Irwan, masyarakat harus menjadi bagian utama dalam setiap perayaan kebangsaan. Kemerdekaan, kata dia, tidak seharusnya hanya menjadi kegiatan seremonial yang dinikmati kelompok tertentu.

“Indonesia ini milik seluruh rakyat. Karena itu, perayaan kemerdekaan juga harus hadir di tengah masyarakat. Masyarakat Asmat bukan penonton, tetapi bagian dari Indonesia dan bagian penting dari kehidupan sosial di Merauke,” tegasnya.

Pemuda Diminta Hadir di Tengah Masyarakat

Irwan menilai keterlibatan langsung pemuda bersama masyarakat dapat memperkuat kepercayaan dan komunikasi sosial.

Menurutnya, gerakan mahasiswa dan organisasi kepemudaan tidak cukup hanya dilakukan melalui diskusi, demonstrasi, atau penyampaian pernyataan sikap.

“Gerakan pemuda harus turun ke masyarakat. Kita tidak boleh hanya bicara tentang rakyat, tetapi jarang bertemu rakyat. Kebersamaan seperti ini menjadi cara untuk membangun komunikasi, mendengar masyarakat dan memahami kehidupan mereka secara langsung,” katanya.

Ketua Umum KAMMI Merauke, Arham, menyebut kegiatan tersebut juga menjadi sarana mempererat hubungan antara organisasi kepemudaan dan masyarakat.

“Aktivisme bukan hanya tentang kritik dan menyampaikan tuntutan. Ada dimensi sosial yang juga harus kita bangun. Ketika pemuda bisa hadir, berbaur dan bergembira bersama masyarakat, itu juga bagian dari pengabdian,” ujarnya.

Ia melihat tarik tambang sebagai gambaran sederhana mengenai pentingnya kekuatan bersama di tengah keberagaman.

“Kita mungkin berbeda organisasi, berbeda latar belakang dan berbeda identitas budaya, tetapi ketika tali itu ditarik bersama, kita belajar satu hal: kita membutuhkan kekuatan satu sama lain. Semangat seperti ini yang harus kita bawa dalam kehidupan berbangsa,” katanya.

Perempuan Punya Peran Penting

Perwakilan perempuan Cipayung Plus Merauke, Aulia, menilai keterlibatan perempuan dalam kegiatan kebangsaan juga perlu terus diperluas.

“Perempuan bukan hanya pelengkap dalam kegiatan kebangsaan. Perempuan memiliki peran penting dalam merawat persaudaraan, membangun komunikasi dan menjaga ruang sosial tetap inklusif,” ujar Aulia.

Menurutnya, kegiatan bersama masyarakat dapat menciptakan ruang interaksi yang lebih terbuka dan setara.

“Kita tidak sedang mencari siapa yang paling kuat. Kita ingin membangun suasana di mana semua orang merasa diterima dan menjadi bagian dari perayaan kemerdekaan. Dari hal sederhana seperti ini, rasa persaudaraan bisa tumbuh,” katanya.

Para aktivis Cipayung Plus Merauke menilai keberagaman masyarakat Papua Selatan merupakan kekuatan penting dalam menjaga persatuan Indonesia.

Irwan mengatakan semangat nasionalisme tidak cukup hanya diwujudkan dengan mengibarkan bendera Merah Putih, tetapi juga melalui perilaku sehari-hari.

“Merah Putih harus hadir dalam sikap kita: gotong royong, saling menghargai, tidak membangun sekat, dan mau hadir bersama masyarakat. Kalau nilai itu hidup, maka nasionalisme bukan sekadar slogan,” katanya.

Arham berharap keterlibatan pemuda di tengah masyarakat tidak hanya muncul ketika momentum perayaan kemerdekaan.

“Jangan hanya turun ke masyarakat saat momentum 17 Agustus. Pemuda harus hadir sepanjang waktu, mendengar persoalan masyarakat dan ikut mencari solusi. Itulah bentuk nasionalisme yang lebih substantif,” ujarnya.

Aulia juga mengajak generasi muda menjadikan peringatan kemerdekaan sebagai kesempatan memperkuat solidaritas sosial.

“Kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang masa lalu. Kemerdekaan juga tentang memastikan masa depan dibangun bersama. Tidak boleh ada kelompok yang merasa sendirian dalam membangun daerah ini,” tuturnya.

Bagi Cipayung Plus Merauke, perlombaan tarik tambang bersama masyarakat Suku Asmat menjadi gambaran sederhana tentang semangat kemerdekaan. Perbedaan latar belakang tidak menjadi penghalang untuk berkumpul dan membangun kebersamaan.

“Kalau kita bisa tertawa dan bergembira bersama dalam satu momentum kemerdekaan, maka kita juga harus mampu bergandengan tangan untuk membangun Merauke dan Papua Selatan,” pungkas Irwan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *