Jakarta – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua Barat terus meluas. Dinas Kehutanan (Dishut) Papua Barat mencatat total area terdampak karhutla sepanjang 2026 mencapai 2.496,39 hektare.
Kabupaten Fakfak menjadi wilayah dengan luas kebakaran terbesar, yakni sekitar 2.171,35 hektare hingga 31 Juli 2026.
Kepala Dishut Papua Barat Jimmy Walter Susanto mengatakan data tersebut berdasarkan pemantauan melalui aplikasi SiPongi+ milik Kementerian Kehutanan.
“Kondisi karhutla di Fakfak paling besar dibanding kabupaten lainnya di Papua Barat,” kata Jimmy di Manokwari, dilansir Antara, Selasa (25/8/2026).
Selain Fakfak, kebakaran juga tercatat di sejumlah daerah lainnya. Teluk Bintuni mengalami karhutla seluas 223,51 hektare, Manokwari Selatan 34,35 hektare, Pegunungan Arfak 33,61 hektare, dan Manokwari 33,54 hektare.
Jika dibandingkan tahun sebelumnya, kondisi karhutla Papua Barat mengalami peningkatan cukup tajam. Pada 2025, luas karhutla tercatat sekitar 1.228,71 hektare.
“Tren karhutla 2026 meningkat dari 2025 yaitu seluas 1.228,71 hektare. Hampir 87 persen karhutla Papua Barat berada di Kabupaten Fakfak,” ujar Jimmy.
373 Titik Api Terdeteksi
Berdasarkan data SiPongi+ terbaru per 23 Agustus 2026 pukul 16.00 WIT, terdapat 373 titik api yang tersebar di tujuh kabupaten di Papua Barat. Wilayah yang terdeteksi titik api kini juga mencakup Teluk Wondama dan Kaimana.
“Data SiPongi+ yang terbaru per 23 Agustus pukul 16.00 WIT, titik api sudah menyebar ke semua kabupaten di Papua Barat,” jelasnya.
Secara keseluruhan, karhutla sepanjang 2026 terjadi dalam beberapa periode, yakni Januari seluas 55,12 hektare, April 1,08 hektare, Juni 472,08 hektare, dan Juli mencapai 1.968,11 hektare.
Berdasarkan fungsi kawasan, karhutla paling banyak terjadi di areal penggunaan lain (APL) dengan luas 1.558,53 hektare. Selanjutnya, hutan produksi 363,70 hektare, hutan produksi konversi 229,25 hektare, hutan lindung 36,51 hektare, serta hutan produksi terbatas 308,40 hektare.
Untuk mengantisipasi kebakaran semakin meluas, Pemprov Papua Barat telah menerbitkan Surat Edaran Gubernur Papua Barat Nomor 100.3.4.1 pada 26 Juli 2026. Surat tersebut berisi kesiapsiagaan menghadapi karhutla sekaligus antisipasi dampak El Nino.
Pemerintah juga membentuk satuan tugas (satgas) penanganan karhutla dengan melibatkan berbagai unsur, termasuk TNI dan Polri.
“Tim kami sudah melakukan patroli, termasuk ikut melakukan pemadaman api di Manokwari Selatan dan Fakfak,” kata Jimmy.
Sementara itu, Panglima Kodam XVIII/Kasuari Mayjen TNI Christian Kurnianto Tehuteru mengatakan kendaraan pemadam kebakaran bantuan dari Kementerian Pertahanan telah disiapkan untuk mendukung penanganan karhutla.
Personel TNI bersama kepolisian dan pemerintah daerah juga disiagakan untuk mendeteksi titik api sedini mungkin agar proses pemadaman dapat dilakukan dengan cepat dan mencegah api meluas.
Christian turut mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar serta tidak membuang puntung rokok sembarangan.
“Kami juga mengimbau agar masyarakat tidak membuka kebun dengan cara membakar, atau membuang puntung rokok sembarang,” ujarnya.













