Jakarta – Kepala Kampung Wanam, Kosmas Kaize, mendorong penguatan ruang kebudayaan sekaligus ekonomi masyarakat sebagai bagian dari pembangunan Kampung Wanam, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke.
Menurut Kosmas, masyarakat Wanam memiliki beragam keterampilan, pengetahuan lokal, serta produk budaya yang berpotensi dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi apabila didukung fasilitas dan tata kelola yang baik.
Hal tersebut menjadi salah satu topik dalam Dialog Masyarakat yang mempertemukan pemerintah kampung, tokoh adat, masyarakat dan peneliti Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI).
Salah satu gagasan yang mengemuka adalah pembangunan sanggar atau rumah budaya sebagai pusat aktivitas masyarakat. Fasilitas tersebut nantinya dapat menjadi tempat berkumpulnya warga yang memiliki keahlian membuat kerajinan maupun perlengkapan adat.
Selain menjadi ruang produksi, sanggar juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat belajar bagi generasi muda untuk mengenal dan meneruskan keterampilan budaya yang diwariskan leluhur.
Kosmas menilai keberadaan pusat kegiatan tersebut akan membuat pengelolaan produk budaya menjadi lebih teratur. Kerajinan dapat diproduksi, disimpan dan dipasarkan dari kampung sehingga masyarakat tidak lagi kesulitan menyediakan berbagai perlengkapan adat ketika dibutuhkan.
Adat dan Pemerintah Harus Bersinergi
Kosmas menekankan bahwa penguatan kebudayaan tidak dapat dilakukan secara terpisah. Pemerintah kampung dan lembaga adat perlu membangun kerja sama agar program pelestarian budaya memiliki arah yang jelas dan berkelanjutan.
Menurutnya, kolaborasi diperlukan mulai dari menentukan program prioritas, menyediakan fasilitas, meningkatkan keterampilan masyarakat hingga membuka akses pasar bagi produk-produk budaya.
“Kalau kita mau tingkatkan budaya, kita harus kerja sama. Adat jalan sendiri, pemerintah jalan sendiri, tidak bisa,” menjadi salah satu penegasan dalam forum tersebut.
Dengan sinergi tersebut, kegiatan kebudayaan diharapkan tidak hanya berlangsung dalam acara seremonial, tetapi dapat menjadi bagian dari aktivitas masyarakat sekaligus memberikan manfaat ekonomi.
Sejarah Wanam Perlu Dibukukan
Selain pengembangan sanggar, Kosmas juga menyoroti pentingnya mendokumentasikan sejarah dan pengetahuan adat masyarakat Wanam.
Berbagai pengetahuan yang selama ini diwariskan secara lisan perlu dihimpun dalam bentuk tulisan maupun dokumentasi agar tetap dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.
Generasi muda dan mahasiswa asal Wanam dinilai dapat mengambil peran melalui penelitian, penulisan sejarah serta pendokumentasian norma dan praktik adat yang masih hidup di tengah masyarakat.
Dokumen tersebut nantinya dapat ditempatkan di rumah adat atau ruang kebudayaan sehingga dapat dimanfaatkan masyarakat, mahasiswa maupun peneliti yang berkunjung ke Wanam.
Menurut Kosmas, dokumentasi menjadi semakin penting seiring meningkatnya pembangunan di wilayah tersebut. Catatan mengenai sejarah, aturan dan nilai adat dapat membantu pihak luar memahami bahwa Wanam memiliki tatanan sosial serta identitas masyarakat yang harus dihormati.
Budaya Harus Dihidupkan Secara Berkelanjutan
Dialog masyarakat juga menghasilkan gagasan agar kegiatan budaya tidak hanya digelar pada waktu tertentu. Kalender kegiatan adat, pertunjukan budaya dan pelibatan sekolah dapat dikembangkan secara rutin untuk memperkuat proses pewarisan pengetahuan kepada anak-anak dan generasi muda.
Bagi Kosmas, arah pembangunan Wanam ke depan harus berjalan dalam dua jalur sekaligus, yakni membangun wilayah dan meningkatkan kapasitas masyarakat.
Pembangunan infrastruktur tetap diperlukan, tetapi manfaatnya akan semakin besar apabila dibarengi dengan penguatan sumber daya manusia, ruang ekonomi dan kebudayaan.
Melalui kolaborasi antara pemerintah kampung, lembaga adat dan masyarakat, Wanam diharapkan dapat berkembang secara modern tanpa kehilangan identitas budaya yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat.













