Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita

Wanam di Tengah Pembangunan, MPSI Dorong Adat Jadi Kekuatan Ekonomi

26
×

Wanam di Tengah Pembangunan, MPSI Dorong Adat Jadi Kekuatan Ekonomi

Share this article
Arus pembangunan yang terus bergerak di Kampung Wanam, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, dinilai harus berjalan seiring dengan penguatan masyarakat adat.

Jakarta – Arus pembangunan yang terus bergerak di Kampung Wanam, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, dinilai harus berjalan seiring dengan penguatan masyarakat adat. Kebudayaan tidak hanya dipandang sebagai warisan leluhur, tetapi juga dapat menjadi fondasi pembangunan dan sumber ekonomi baru bagi warga.

Gagasan tersebut mengemuka dalam Dialog Masyarakat yang digelar Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI) di Kampung Wanam. Forum tersebut mempertemukan Ketua Adat Wanam Yohanis Agabe Mahuze, Kepala Kampung Wanam Kosmas Kaize, masyarakat setempat, serta Peneliti MPSI Annas Fitrah Akbar.

Dalam dialog, pembahasan tidak berhenti pada upaya mempertahankan adat. Para peserta juga membahas bagaimana potensi budaya Wanam dapat dikembangkan menjadi kekuatan pengetahuan, ekonomi, sekaligus memperkuat posisi masyarakat adat di tengah pembangunan.

Ketua Adat Wanam Yohanis Agabe Mahuze mengatakan masyarakat memiliki kekayaan budaya yang besar dan perlu dikelola secara lebih terarah.

Menurutnya, Wanam telah dikenal luas sehingga identitas tersebut harus diperkuat dengan dokumentasi sejarah, norma, simbol adat dan pengetahuan lokal.

“Wanam itu adalah brand yang sangat dikenal. Ini adalah harta masyarakat,” ujar Yohanis.

Ia mendorong agar pengetahuan yang selama ini diwariskan secara lisan mulai dihimpun dalam bentuk buku, catatan sejarah dan bahan pembelajaran. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan generasi muda tetap mengenal akar budayanya.

Dokumentasi juga dapat menjadi sumber informasi bagi masyarakat luar, mahasiswa maupun peneliti yang ingin memahami sejarah dan kebudayaan Wanam berdasarkan perspektif masyarakat setempat.

Namun, Yohanis menilai pelestarian adat tidak harus berseberangan dengan pengembangan ekonomi. Justru kebudayaan dapat menjadi modal untuk membuka sumber pendapatan baru bagi masyarakat.

Rumah adat, misalnya, dapat dikembangkan sebagai ruang edukasi dan tempat menerima pengunjung. Pertunjukan budaya dapat dilakukan secara berkala, sementara masyarakat lokal dapat dilibatkan sebagai pemandu.

Kerajinan yang dibuat mama-mama dan perajin Wanam juga berpeluang dikembangkan menjadi produk lokal bernilai ekonomi.

Dengan demikian, kebudayaan tidak hanya dilestarikan, tetapi juga memberikan manfaat langsung kepada masyarakat sebagai pemiliknya.

Sanggar Jadi Pusat Budaya dan Ekonomi

Kepala Kampung Wanam Kosmas Kaize menilai gagasan tersebut membutuhkan ruang yang nyata di tingkat kampung.

Salah satu kebutuhan yang dinilai penting adalah sanggar atau rumah budaya yang dapat menjadi pusat aktivitas masyarakat. Tempat itu dapat digunakan untuk memproduksi kerajinan, menyimpan perlengkapan adat sekaligus menjadi ruang belajar bagi generasi muda.

Keberadaan sanggar juga diharapkan membuat pengelolaan produk budaya lebih terorganisasi sehingga masyarakat memiliki ruang untuk mengembangkan keterampilan sekaligus memasarkan hasil produksinya.

Kosmas menegaskan penguatan budaya membutuhkan kerja sama antara pemerintah kampung dan lembaga adat.

“Kalau kita mau tingkatkan budaya, kita harus kerja sama. Adat jalan sendiri, pemerintah jalan sendiri, tidak bisa,” menjadi salah satu penegasan dalam dialog.

Ia juga mendorong generasi muda dan mahasiswa asal Wanam terlibat dalam pendokumentasian sejarah dan kebudayaan kampung.

Pengetahuan adat yang selama ini diwariskan secara lisan perlu segera dihimpun agar tidak hilang ketika terjadi pergantian generasi.

MPSI Tekankan Perencanaan

Peneliti MPSI Annas Fitrah Akbar mengingatkan bahwa berbagai gagasan tersebut harus disusun melalui perencanaan yang jelas.

Menurutnya, pembangunan sanggar, pusat kerajinan maupun fasilitas budaya tidak boleh sekadar berakhir pada pembangunan fisik. Setiap program harus memiliki fungsi, pengelola, pasar dan manfaat yang terukur.

“Yang kita dahulukan, perkuat dokumentasinya dulu. Kita kuatkan kebudayaannya. Kita bentuk bukunya, sambil menyusun tempat kerajinan,” ujar Annas.

Ia juga mengingatkan pentingnya memastikan pasar sebelum mengembangkan produk budaya.

“Jangan sampai kita bikin gedung, terus kita bikin anyam-anyam, tidak ada yang beli. Ini perlu kita rencanakan, yang mana dahulu,” katanya.

Karena itu, MPSI mendorong penyusunan rencana aksi yang membagi program ke dalam target jangka pendek dan jangka panjang.

Tahap awal dapat diarahkan pada dokumentasi adat, pemetaan potensi budaya, peningkatan keterampilan masyarakat dan identifikasi produk. Selanjutnya, pengembangan dapat diperluas melalui ruang produksi, pemasaran, promosi digital dan kegiatan budaya.

“Nanti perlu kita susun rencana aksi. Rencana jangka pendeknya apa, jangka panjangnya apa. Jadi terstruktur,” ujar Annas.

Salah satu gagasan yang muncul adalah penyelenggaraan festival budaya tahunan sebagai sarana regenerasi sekaligus memperkenalkan Wanam kepada masyarakat luar.

Namun, Annas menekankan seluruh bentuk kegiatan harus ditentukan bersama masyarakat adat agar nilai-nilai yang ditampilkan tetap sesuai dengan identitas dan kesepakatan masyarakat.

Dialog MPSI tersebut menegaskan bahwa pembangunan Wanam tidak harus mempertentangkan modernisasi dengan adat.

Keduanya justru dapat berjalan beriringan apabila masyarakat adat tetap ditempatkan sebagai pihak yang menentukan arah perubahan.

Dengan penguatan dokumentasi, sanggar, kapasitas masyarakat, pemasaran dan perencanaan yang matang, kebudayaan Wanam berpeluang berkembang menjadi kekuatan sosial sekaligus ekonomi.

Tujuannya bukan sekadar membuat Wanam semakin dikenal, tetapi memastikan masyarakat adat tetap menjadi pemilik, pelaku utama dan penerima manfaat dari pembangunan yang berlangsung di wilayahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *