Jakarta – Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Serubur Kementerian Pertanian bersama Tim 8 Ekspedisi Patriot Universitas Padjadjaran (Unpad) terus mendorong pengembangan inovasi pertanian di kawasan transmigrasi Bomberay-Tomage, Kabupaten Fakfak, Papua Barat.
Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas padi hingga mencapai lima ton per hektare melalui penerapan teknologi budi daya dan sistem pengairan yang lebih efisien.
Koordinator BPP Serubur Kementerian Pertanian Benyamin Unwakoli mengatakan optimalisasi pengairan menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan hasil produksi, terutama ketika petani menghadapi musim kemarau.
“Inovasi sendiri dilakukan melalui optimalisasi teknologi pengairan. Kalau irigasi teknis sudah tersedia, kita harus mulai bermain di kelas bukan lagi dua ton, tetapi tiga, empat, bahkan lima ton,” ujarnya dikutip dari Antara, Selasa (1/9/2026).
Salah satu teknologi yang mulai diterapkan adalah sistem minapadi, yakni metode yang menggabungkan budi daya ikan dan tanaman padi dalam satu lahan. Pola tersebut dinilai dapat meningkatkan pemanfaatan lahan sekaligus membuka peluang tambahan pendapatan bagi petani.
Selain minapadi, petani juga mendapatkan pendampingan untuk menerapkan Alternate Wetting and Drying (AWD) atau sistem pengairan berselang. Pengaturan air dilakukan berdasarkan kebutuhan tanaman pada setiap tahapan pertumbuhan.
Langkah tersebut penting karena produksi padi di kawasan Bomberay-Tomage masih cukup bergantung pada curah hujan. Pada musim tanam kedua, misalnya, hasil panen di SP1 Bimajaya dan Wamar hanya berada di kisaran 1,1 hingga 1,6 ton per hektare berdasarkan pengukuran ubinan bersama Badan Pusat Statistik (BPS).
Angka itu masih berada di bawah potensi produksi normal yang mencapai sekitar 2,5 hingga 3 ton per hektare. Kondisi kemarau serta keterbatasan pasokan air menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi produktivitas lahan.
Untuk mengatasi persoalan pengairan, BPP Serubur berkoordinasi dengan instansi terkait guna memastikan ketersediaan BBM bersubsidi bagi petani yang mengoperasikan pompa.
Pemerintah juga tengah mematangkan usulan pembangunan jaringan irigasi saluran tertutup yang menggunakan pompa bertenaga surya. Infrastruktur tersebut diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp159 juta.
“Pembangunan irigasi tersebut nantinya dikelola oleh kelompok tani agar fasilitas yang dibangun dapat dimanfaatkan dan dirawat secara mandiri,” katanya.
Saat ini, total lahan persawahan yang dikelola di kawasan Bomberay-Tomage mencapai 11 hektare. Dari luasan tersebut, sembilan hektare merupakan lahan milik petani, sedangkan dua hektare lainnya menjadi lahan garapan Yonif TP 808/Mbaham Matta.
Penerapan teknologi budi daya, sistem minapadi, serta penguatan infrastruktur pengairan diharapkan mampu meningkatkan hasil pertanian sekaligus menjadikan Bomberay-Tomage sebagai salah satu kawasan penyangga ketahanan pangan di Papua Barat.













