Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita

Badan Geologi Pastikan Anak Krakatau Tak Berpotensi Picu Tsunami

25
×

Badan Geologi Pastikan Anak Krakatau Tak Berpotensi Picu Tsunami

Share this article

Jakarta – Badan Geologi memastikan pertumbuhan Gunung Anak Krakatau setelah erupsi besar pada 2018 masih relatif kecil. Berdasarkan evaluasi morfologi terkini, gunung api tersebut dinilai belum berpotensi mengalami keruntuhan besar yang dapat memicu tsunami.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria menjelaskan kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini berbeda dengan sebelum peristiwa 22 Desember 2018.

“Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 ini masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami,” ujar Lana dalam konferensi pers, Minggu (6/9).

Menurut Lana, tidak setiap aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau otomatis menyebabkan tsunami. Ia menjelaskan tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 lebih berkaitan dengan longsornya sebagian tubuh gunung api ke laut dalam volume besar.

Dengan demikian, tsunami saat itu tidak semata-mata disebabkan oleh aktivitas erupsi.

Morfologi Anak Krakatau Berubah

Lana mengatakan perbedaan bentuk Gunung Anak Krakatau terlihat jelas jika dibandingkan dengan kondisi sebelum 2018.

“Morfologi Gunung Anak Krakatau saat ini berbeda dibandingkan sebelum peristiwa 2018. Sebagian besar tubuh gunung pada sisi tertentu telah runtuh pada 2018,” kata Lana.

Seiring waktu, pertumbuhan dan perubahan bentuk gunung api tetap berlangsung. Namun, berdasarkan pemetaan Badan Geologi, bagian dasar tubuh gunung serta kawah utama Anak Krakatau tidak menunjukkan perubahan signifikan dibandingkan hasil pemetaan sebelumnya.

“Meskipun demikian, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi tetap dipantau secara intensif,” kata Lana.

Meski potensi tsunami akibat keruntuhan besar dinilai tidak ada berdasarkan kondisi morfologi saat ini, masyarakat tetap diminta mewaspadai bahaya langsung dari aktivitas erupsi.

Salah satunya berupa lontaran material vulkanik yang dapat merusak peralatan di sekitar pusat aktivitas. Material tersebut juga dapat membahayakan masyarakat yang nekat memasuki zona terlarang.

Aktivitas Gunung Masih Berfluktuasi

Badan Geologi juga mencatat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berpotensi mengalami fluktuasi dan peningkatan.

Sejumlah aktivitas kegempaan masih terekam, di antaranya gempa frekuensi rendah, gempa hibrid, gempa harmonik, serta tremor.

Kondisi tersebut membuat waktu, kekuatan, dan karakter erupsi berikutnya belum dapat dipastikan secara akurat.

“Waktu, besar, dan bentuk erupsi berikutnya tidak dapat dipastikan secara tepat. Karena itu, evaluasi dilakukan secara berkelanjutan berdasarkan perubahan seluruh parameter pemantauan,” ucapnya.

Alternatif judul bombastis/clickbait:

  1. Anak Krakatau Kembali Aktif, Badan Geologi Pastikan Tak Picu Tsunami
  2. Badan Geologi Ungkap Kondisi Anak Krakatau, Potensi Tsunami Terjawab
  3. Anak Krakatau Erupsi, Badan Geologi Beberkan Risiko Tsunami
  4. Anak Krakatau Masih Aktif, Badan Geologi: Tak Berpotensi Runtuh Picu Tsunami
  5. Kabar Terbaru Anak Krakatau: Badan Geologi Ungkap Kondisi Morfologinya
  6. Anak Krakatau Menggeliat Lagi, Badan Geologi Minta Warga Waspada
  7. Badan Geologi Buka Suara soal Anak Krakatau, Ancaman Tsunami Terungkap

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *