Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita

Kementan Konsolidasikan Penyuluh untuk Perkuat Papua sebagai Lumbung Pangan

39
×

Kementan Konsolidasikan Penyuluh untuk Perkuat Papua sebagai Lumbung Pangan

Share this article
Kementan mengonsolidasikan penyuluh pertanian se-Papua untuk memperkuat pendampingan kepada petani sekaligus menyinergikan program strategis dalam mendorong Papua menjadi salah satu lumbung pangan di kawasan timur Indonesia. Foto: ANTARA/HO-Kementan

Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) mengonsolidasikan penyuluh pertanian se-Papua untuk memperkuat pendampingan kepada petani sekaligus menyinergikan program strategis dalam mendorong Papua menjadi salah satu lumbung pangan di kawasan timur Indonesia.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan Idha Widi Arsanti mengatakan penguatan kapasitas dan kelembagaan penyuluh menjadi bagian penting dalam meningkatkan produksi pangan serta mendukung pencapaian swasembada.

“BPPSDMP terus memperkuat kelembagaan dan kapasitas penyuluh agar mampu menjalankan tugas secara profesional dan terukur,” kata Idha dilansir dari Antara, Senin (28/9/2026).

Hal tersebut disampaikan Idha setelah pelaksanaan Rapat Koordinasi (Rakor) Penyuluh Pertanian se-Papua di Merauke, Papua Selatan. Kegiatan tersebut melibatkan unsur pemerintah pusat dan daerah, dinas pertanian, Polbangtan Manokwari, BRMP/BBRMP/Loka, Balai Pengelolaan Lahan dan Irigasi Pertanian (BLIP) Jayapura, Ketua Kelompok Substansi dan Ketua Tim Kerja (Katimker) se-Papua, penyuluh pertanian, serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Menurut Idha, rakor tersebut menjadi wadah untuk memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah sekaligus meningkatkan pemahaman penyuluh mengenai berbagai program prioritas Kementan.

“Termasuk menyelesaikan berbagai permasalahan lapangan, sekaligus mengoptimalkan potensi Papua dalam mendukung pembangunan pertanian nasional,” ujar Idha.

Sementara itu, Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian BPPSDMP Kementan Eko Nugroho Dharmo Putro mengatakan Papua memiliki potensi sumber daya pertanian yang besar sehingga perlu dikelola secara terarah agar mampu meningkatkan kontribusi terhadap produksi pangan dan perekonomian masyarakat.

Ia menilai pembangunan sektor pertanian di Papua tidak cukup hanya mengejar peningkatan produksi. Pengembangan komoditas perlu dilanjutkan dengan proses hilirisasi agar menghasilkan nilai tambah yang lebih besar.

“Papua memiliki potensi yang sangat besar. Tidak hanya untuk mendukung swasembada pangan, tetapi juga untuk pengembangan komoditas unggulan dan hilirisasi,” ujar Eko.

Karena itu, Eko menekankan penyuluh perlu terlibat dalam seluruh tahapan pembangunan pertanian, mulai dari produksi, pendampingan petani, penguatan kelembagaan, pengembangan usaha hingga proses hilirisasi.

Penyuluh juga dituntut memahami karakteristik wilayah binaan, memiliki basis data yang akurat, serta mampu mengawal pelaksanaan program pertanian dari sektor hulu hingga hilir.

Wakil Gubernur Papua Selatan Paskalis Imadawa yang membuka kegiatan tersebut mengatakan pembangunan pertanian di Papua membutuhkan modernisasi yang dibarengi penguatan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah.

“Penyuluh dipandang memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan dalam mendampingi petani, memperkenalkan teknologi pertanian, serta memastikan program pembangunan pertanian dapat diterapkan sesuai kondisi wilayah,” kata Paskalis.

Dalam rakor tersebut juga muncul gagasan pembentukan Rumah Penyuluh atau Kelembagaan Penyuluhan Pertanian. Gagasan itu diarahkan agar setiap kabupaten setidaknya memiliki satu rumah atau kelembagaan penyuluhan yang dapat menjadi pusat koordinasi dan pelayanan bagi petani.

Kelembagaan tersebut diharapkan menjadi ruang pembelajaran, pertukaran informasi, sekaligus memperkuat layanan penyuluhan pertanian di daerah.

Dengan dukungan lahan yang luas, Papua terus diarahkan menjadi salah satu wilayah penyangga produksi pangan nasional. Upaya tersebut dilakukan melalui sejumlah program, di antaranya Brigade Pangan, optimalisasi lahan (oplah), cetak sawah rakyat (CSR), serta pemanfaatan teknologi pertanian modern.

Pemerintah juga mendorong keterlibatan masyarakat lokal atau Orang Asli Papua (OAP) dalam pengembangan pertanian. Selain meningkatkan produksi pangan, keterlibatan tersebut diharapkan membuka peluang usaha dan memperkuat kesejahteraan masyarakat setempat.

Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan pentingnya memperkuat peran penyuluh sebagai ujung tombak dalam mengawal program strategis pertanian dan mendukung terwujudnya swasembada pangan berkelanjutan, termasuk di wilayah Papua Raya.

Amran mengatakan penyuluh memiliki peran penting untuk memastikan berbagai program pemerintah dapat diterapkan hingga tingkat petani. Posisi tersebut sekaligus menjadi penghubung antara kebijakan, inovasi teknologi, dan penerapannya di lapangan.

“Penyuluh adalah ujung tombak di lapangan. Mereka yang memastikan program berjalan, teknologi sampai ke petani, dan produksi meningkat. Karena itu, kita harus siapkan penyuluh yang kuat, tangguh, dan kompeten,” kata Amran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *