Jakarta – Suara doa dan pujian menggema dari Gereja Baptis Wiyaware, Distrik Pirime, Kabupaten Lanny Jaya, Papua Pegunungan, pada akhir pekan lalu. Di antara jemaat yang memenuhi bangku gereja, tampak sejumlah prajurit Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) Yonif 511/Dibyatara Yudha (DY) turut khusyuk mengikuti ibadah bersama masyarakat setempat.
Kehadiran para prajurit bukan sekadar menjalankan tugas pengamanan, melainkan menjadi bagian dari upaya membangun kedekatan emosional dan spiritual dengan warga di wilayah penugasan.
Komandan Pos (Danpos) Pirime Satgas Pamtas Yonif 511/DY, Lettu Inf Wahyudin, mengatakan pendekatan melalui kegiatan kerohanian menjadi salah satu cara efektif untuk mempererat hubungan antara TNI dan masyarakat.
“Kami ingin kehadiran prajurit TNI di gereja dan mengikuti ibadah bersama-sama dapat meningkatkan komunikasi, persaudaraan sehingga dapat bersama-sama menciptakan daerah yang aman dan nyaman,” kata Wahyudin dalam keterangannya, Senin (29/6/2026).
Menurutnya, ibadah bersama juga menjadi pengingat bagi setiap prajurit untuk tetap menjunjung nilai-nilai spiritual di mana pun mereka bertugas.
“Kegiatan ibadah yang juga diikuti oleh prajurit kami Satgas Pamtas Yonif 511/DY ini akan selalu dilaksanakan mengingat akan pentingnya suatu ibadah,” ujarnya.
Bagi masyarakat Distrik Pirime, kehadiran prajurit TNI di rumah ibadah menghadirkan suasana berbeda. Tidak hanya berbaur dalam doa bersama, para personel Satgas juga membantu menjaga keamanan dan kelancaran pelaksanaan ibadah sehingga jemaat dapat beribadah dengan tenang.
Wahyudin menuturkan, kegiatan tersebut diharapkan dapat terus menumbuhkan rasa persaudaraan, memperkuat nilai kebersamaan, serta membangun komunikasi yang harmonis antara aparat keamanan, tokoh agama, dan masyarakat.
Sementara itu, Gembala Gereja Baptis Wiyaware, Edi, mengaku senang melihat antusiasme prajurit Satgas yang ikut beribadah bersama warga.
“Kami sangat senang karena prajurit Satgas Pamtas Yonif 511/DY sangat antusias dalam melaksanakan ibadah bersama dengan masyarakat,” kata Edi.
Di tengah bentang alam pegunungan Papua yang menantang, kebersamaan antara prajurit dan masyarakat dalam ruang ibadah menjadi potret lain dari tugas pengabdian. Bahwa menjaga keamanan tidak selalu dilakukan dengan senjata, tetapi juga melalui kehadiran, persaudaraan, dan doa yang dipanjatkan bersama.













