Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Budaya

Papua Pegunungan Perkuat Trigatra Bahasa di Sekolah

31
×

Papua Pegunungan Perkuat Trigatra Bahasa di Sekolah

Share this article
Ilustrasi anak-anak Papua mendapatkan pendidikan yang layak. Foto Antara
Ilustrasi anak-anak Papua mendapatkan pendidikan yang layak. Foto Antara

Jakarta – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Pegunungan terus mendorong penerapan konsep trigatra bangun bahasa di seluruh satuan pendidikan sebagai upaya memperkuat kemampuan berbahasa sekaligus menjaga identitas budaya generasi muda.

Staf Ahli Gubernur Papua Pegunungan Bidang Pengembangan Otonomi Khusus, Manogar Sirait mengatakan, penguasaan bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa Inggris perlu menjadi perhatian serius di lingkungan pendidikan, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas dan kejuruan.

Menurutnya, ketiga bahasa tersebut memiliki fungsi yang berbeda, namun saling melengkapi dalam mendukung kemampuan komunikasi, pelestarian budaya, serta kesiapan menghadapi perkembangan global.

“Anak-anak harus dibekali dengan bahasa Indonesia, bahasa ibu, atau daerah serta bahasa Inggris (asing) supaya dapat berkomunikasi dengan siapa saja secara baik. Maka satuan pendidikan mulai SD hingga SMA/SMK harus mengajarkan trigatra bangun bahasa ini secara baik,” katanya dikutip Antara, Kamis (25/6/2026).

Manogar menjelaskan bahwa penguatan kemampuan berbahasa perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui berbagai program pendidikan. Ia mencontohkan kegiatan lomba pidato bahasa Indonesia yang sebelumnya diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Pegunungan.

Menurut dia, kegiatan serupa ke depan dapat diperluas dengan melibatkan penggunaan bahasa daerah maupun bahasa asing agar peserta didik memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa secara lebih menyeluruh.

“Anak-anak harus didorong terus mengenai pengenalan bahasa asing dan daerah. Supaya mereka tidak ketinggalan dengan informasi global, tetapi dapat menghargai dan melestarikan nilai-nilai budaya setempat dengan bahasa daerah,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa ekosistem kebahasaan di Indonesia bertumpu pada tiga unsur utama, yakni bahasa daerah sebagai bahasa ibu, bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa nasional, serta bahasa asing yang berfungsi mendukung komunikasi internasional dan penguasaan ilmu pengetahuan.

“Ketiganya memiliki peran yang saling melengkapi dalam identitas budaya, komunikasi kenegaraan serta pergaulan global dan penguasaan ilmu pengetahuan,” katanya.

Lebih lanjut, Manogar menuturkan bahwa dalam sistem pendidikan nasional, bahasa Indonesia tetap menjadi bahasa pengantar utama sesuai ketentuan yang berlaku. Namun, penggunaan bahasa daerah juga memiliki peran penting, khususnya pada tahap awal pendidikan untuk membantu peserta didik memahami materi pelajaran dengan lebih mudah.

Kondisi tersebut dinilai sangat relevan diterapkan di Papua Pegunungan yang memiliki keragaman bahasa dan budaya yang tinggi. Sementara itu, bahasa asing dapat dimanfaatkan dalam kelas-kelas tertentu guna meningkatkan kemampuan komunikasi internasional para siswa.

“Bahasa daerah dapat digunakan sebagai bahasa pengantar di tahap awal pendidikan untuk memperlancar pemahaman khususnya di wilayah Papua Pegunungan dan bahasa asing dapat digunakan sebagai bahasa pengantar di kelas khusus untuk mendukung kemampuan berbahasa peserta didik,” ujarnya.

Melalui penerapan trigatra bangun bahasa, Pemprov Papua Pegunungan berharap generasi muda tidak hanya memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik di tingkat nasional dan internasional, tetapi juga tetap menjaga serta melestarikan bahasa daerah sebagai bagian dari warisan budaya yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *