Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita

Dari Papua hingga Dilantik Presiden: Kisah Perjuangan Jhosua Menjadi Praja IPDN

47
×

Dari Papua hingga Dilantik Presiden: Kisah Perjuangan Jhosua Menjadi Praja IPDN

Share this article
Rona bahagia memancar dari wajah Jhosua Faitri Ick, Purna Praja asal Papua Barat Daya, usai diresmikan secara langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto dalam upacara kelulusan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Angkatan 2026.

Jakarta – Rona bahagia memancar dari wajah Jhosua Faitri Ick, Purna Praja asal Papua Barat Daya, usai diresmikan secara langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto dalam upacara kelulusan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Angkatan 2026.

Momen berharga ini menjadi sejarah tersendiri, tak hanya bagi perjalanan kariernya tetapi juga bagi keluarganya yang tak henti memberikan dukungan dan doa sepanjang proses pendidikannya.

Prosesi pelantikan oleh Kepala Negara ini dirasakan sangat istimewa karena memberikan warna baru dibanding tradisi kelulusan beberapa tahun belakangan.

“Kesan yang kami dapatkan tentunya sangat senang karena sudah beberapa tahun belakangan ini kami, khususnya IPDN, belum pernah dilantik langsung oleh Bapak Presiden,” ujar Jhosua usai mengikuti Pelantikan Pamong Praja Muda Angkatan XXXIII IPDN Tahun 2026 di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Rabu (29/7/2026).

Dari deretan pesan yang disampaikan Presiden, ada satu wejangan utama yang tertanam kuat dalam benak Jhosua terkait komitmen pelayanan publik.

“Pesan yang saya ingat dari Bapak Presiden tadi yaitu kita sebagai lulusan pamong praja harus melayani masyarakat tanpa memandang bulu, melayani dengan tulus dan sepenuh hati demi kemajuan bangsa,” katanya.

Kehadiran sosok Presiden dalam momen purnawiyata tersebut dinilainya sebagai bentuk penghargaan tertinggi bagi seluruh pamong praja muda angkatan XXXIII.

“Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Presiden Republik Indonesia karena telah melantik kami. Itu merupakan kesan terbaik bagi angkatan kami,” tuturnya.

Ia menaruh harapan besar agar bekal ilmu dan dedikasinya di lapangan mampu berkontribusi nyata dalam mewujudkan cita-cita nasional.

“Dapat membangun Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. Itulah harapan yang tentunya bangsa Indonesia inginkan bersama,” ucapnya.

Perjuangan Seleksi dan Rasa Haru Sang Ayah

Keberhasilan Jhosua melangkah sejauh ini tidak diraih dengan mudah. Ayahanda Jhosua, Martinus Ick, mengenang bagaimana putranya harus bertarung ketat dalam proses seleksi awal saat masih membawa nama Provinsi Papua Barat, sebelum adanya pemekaran wilayah Papua Barat Daya.

Kala itu, Jhosua berhasil mengamankan satu dari 48 kuota kelulusan perwakilan Papua Barat, mengungguli puluhan ribu pendaftar lain di tingkat nasional.

“Puji Tuhan, kami bersyukur karena semua yang terjadi adalah kehendak Tuhan. Masuk kuliah di IPDN tidak semudah yang dibayangkan. Persaingannya sangat ketat,” kata Martinus.

Menjalani masa kawah candradimuka selama empat tahun jauh dari keluarga menjadi ujian kedisiplinan dan mental tersendiri. Martinus memปรparkan bahwa pihak keluarga senantiasa mendoakan dari jauh.

“Hari ini kami bersyukur kepada Tuhan. Proses pendidikan selama empat tahun cukup berat. Kami tidak melihat secara langsung, tetapi kami mengimani bahwa perjalanannya memang cukup berat,” ujarnya.

Momen pelantikan yang dipimpin langsung oleh Presiden kian melengkapi rasa haru dan bangga keluarga di hari bahagia tersebut.

“Menurut pandangan kami, pada tahun-tahun sebelumnya yang melantik biasanya Bapak Menteri atau perwakilan. Namun hari ini Presiden datang langsung melantik anak kami bersama teman-temannya. Itu merupakan penghormatan yang sangat luar biasa bagi kami sebagai orang tua, terlebih bagi anak-anak yang hari ini resmi dilantik oleh Bapak Presiden. Kami bersyukur kepada Tuhan dan berterima kasih kepada Bapak Presiden,” ungkapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *