Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita

Kemenkes Genjot Deteksi TBC untuk Penyandang Disabilitas

42
×

Kemenkes Genjot Deteksi TBC untuk Penyandang Disabilitas

Share this article
Kemenkes) menegaskan bahwa rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan vital yang harus tetap dapat diakses masyarakat dalam kondisi apa pun. Foto: ANTARA/HO - Kemenkes

Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan pentingnya memperkuat deteksi dini hingga penanganan tuberkulosis (TBC) bagi penyandang disabilitas. Upaya tersebut dinilai perlu didukung dengan pengembangan teknologi skrining yang lebih inklusif agar kelompok rentan ini memperoleh akses layanan kesehatan yang lebih baik.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan, Imran Pambudi, menyampaikan hal itu saat menanggapi hasil penelitian teknologi TBScreen.AI yang dikembangkan KONEKSI, platform kemitraan Australia–Indonesia di bidang pengetahuan dan inovasi. Teknologi tersebut dirancang untuk meningkatkan efektivitas proses skrining TBC.

“Kelompok disabilitas perlu mendapatkan perhatian lebih karena mereka berpotensi terkena Tb juga. Namun jika kita berbicara tentang kelompok disabilitas, sebenarnya ada empat ragam kelompok utama yang tercakup di sini, termasuk disabilitas fisik, intelektual, mental, dan sensorik,” katanya di Jakarta, Senin.

Imran menjelaskan, perhatian publik selama ini masih banyak tertuju pada penyandang disabilitas fisik. Padahal, setiap kelompok disabilitas memiliki tantangan yang berbeda dalam mengakses layanan kesehatan, mulai dari pemeriksaan rontgen, proses diagnosis, hingga pengobatan.

“Maka itu, diseminasi penelitian ini jadi kesempatan penting untuk memastikan Tb dapat dideteksi lebih dini bagi penyandang disabilitas, sehingga pengobatan dapat segera diberikan agar sembuh,” ujar Imran.

Indonesia hingga kini masih menjadi negara dengan beban kasus TBC terbesar kedua di dunia setelah India. Pada 2024 diperkirakan terdapat sekitar 1.090.000 kasus TBC dengan angka kematian mencapai 125.000 jiwa setiap tahun. Kondisi tersebut menjadi dasar perlunya penguatan strategi pencegahan, deteksi, dan pengobatan secara menyeluruh.

Untuk menekan penyebaran penyakit tersebut, Kemenkes menerapkan strategi pengendalian TBC yang lebih preventif melalui Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC). Salah satu langkah utamanya adalah melakukan pelacakan (tracing) terhadap seluruh anggota keluarga dan kontak erat pasien guna memutus rantai penularan serta mempercepat target eliminasi TBC pada 2030.

Sementara itu, peneliti utama sekaligus dosen Departemen Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Antonia Morita Iswari Saktiawati, mengatakan pengembangan TBScreen.AI akan terus dilakukan agar memiliki tingkat akurasi yang lebih tinggi.

Menurutnya, peningkatan sensitivitas sistem dilakukan dengan menambah jumlah data foto rontgen dada, memperhitungkan penyakit penyerta (komorbid), serta memperluas cakupan kelompok rentan yang menjadi objek penelitian.

Saat ini, data yang digunakan dalam pengembangan TBScreen.AI masih didominasi dari wilayah Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Papua sehingga belum sepenuhnya mencerminkan karakteristik penduduk Indonesia secara nasional. Oleh karena itu, pengumpulan data dari berbagai provinsi lain menjadi prioritas pada tahap berikutnya.

Selain telah tersedia dalam versi daring, tim pengembang juga tengah menyiapkan versi luring (offline) agar teknologi tersebut tetap dapat dimanfaatkan di daerah terpencil yang memiliki keterbatasan akses internet.

“Teknologi berbasis kecerdasan buatan ini kami kembangkan sebagai alat bantu skrining, dengan algoritma AI yang telah disesuaikan dengan karakteristik populasi Indonesia. Pengumpulan dan uji data yang dilakukan menghasilkan sensitivitas platform TBScreen.AI mencapai 83,16 persen,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *