Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita

Dari Mimpi Sejak SD, Siswa Papua Pegunungan Ini Tembus Paskibraka Nasional

43
×

Dari Mimpi Sejak SD, Siswa Papua Pegunungan Ini Tembus Paskibraka Nasional

Share this article
Upaya penyelundupan sekitar 28 ton pasir timah ilegal yang diduga hendak dikirim ke Malaysia berhasil digagalkan Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Bareskrim Polri. Foto: Bakom RI

Jakarta – Impian Julia Maharani Dabi untuk menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional akhirnya terwujud. Siswi SMAN 1 Wamena, Papua Pegunungan, itu sejak kecil telah membayangkan dirinya berdiri di Istana Kepresidenan untuk mengibarkan Sang Merah Putih.

Kecintaannya terhadap Paskibraka tumbuh dari kebiasaannya menyaksikan upacara peringatan Hari Kemerdekaan RI melalui televisi. Gerakan baris-berbaris yang tegap membuat Julia yakin suatu saat dirinya juga bisa menjadi bagian dari pasukan tersebut.

“Saya kalau 17-an, setiap hari saya nonton. Mereka langkahnya tegap, saya berpikir pasti saya bisa. Saya percaya diri kalau saya akan mengibarkan bendera,” ujar Julia dikutip Sabtu (15/8).

Keinginan tersebut semakin kuat karena mendapat dukungan dari kedua orang tuanya. Julia yang memiliki postur tubuh tinggi dinilai memiliki potensi untuk mengikuti seleksi Paskibraka.

Kesempatan datang ketika Julia mulai bersekolah di SMAN 1 Wamena. Sejumlah kakak kelas melihat postur tubuhnya yang tinggi dan tegap, termasuk cara berjalan Julia yang dinilai cocok untuk mengikuti latihan pasukan pengibar bendera.

Julia pun menerima ajakan tersebut. Sejak saat itu, ia rutin berlatih setiap sore setelah kegiatan belajar di sekolah selesai.

“Setelah itu, jadi kami selalu latihan setiap sore sepulang sekolah. Latihan dan terus latihan,” tuturnya.

Rela Berjalan Kaki Demi Latihan

Perjalanan Julia menuju Paskibraka Nasional tidak selalu mudah. Jarak rumah menuju sekolah cukup jauh. Dengan sepeda motor, perjalanan tersebut membutuhkan waktu sekitar 30 menit.

Dalam kondisi tidak memiliki uang untuk membeli bensin, Julia bahkan memilih berjalan kaki agar tetap bisa mengikuti latihan baris-berbaris yang berlangsung mulai pukul 14.00 hingga 17.00.

Kondisi tersebut tidak membuatnya mundur. Julia tetap menjalani latihan dengan tekad kuat karena sejak awal percaya dirinya memiliki peluang untuk menjadi Paskibraka Nasional.

“Saya sangat semangat karena menurut saya, saya percaya diri. Pasti saya akan bisa jadi Paskibraka nasional. Jadi bagaimanapun tantangannya, cobaan, godaan, saya lewati,” imbuh dia.

Kerja keras itu kemudian membawanya mengikuti proses seleksi yang dilakukan perwakilan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol). Julia bersama empat siswa lainnya berhasil melewati seleksi awal hingga masuk tahapan seleksi tingkat provinsi.

Setelah menjalani latihan yang lebih intensif, Julia kemudian berkesempatan mengikuti proses verifikasi di Jakarta. Dari dua siswa SMAN 1 Wamena yang berhasil melaju, Julia menjadi salah satunya.

Pantang Menyerah Meski Serba Terbatas

Berada di Jakarta menghadirkan tantangan tersendiri. Julia harus beradaptasi dengan lingkungan baru sekaligus berinteraksi dengan peserta yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.

Persoalan biaya juga sempat menjadi hambatan. Ketika akan berangkat ke Jakarta, Julia belum memiliki sepatu pantofel sehingga harus meminjam milik tetangganya.

Sayangnya, sepatu tersebut tidak sesuai dengan ukuran kakinya. Kondisi itu membuat kakinya terasa sangat pegal ketika digunakan untuk latihan. Namun, Julia memilih tetap bertahan dan menjalani seluruh proses latihan.

“Tapi saya tetap semangat. Bagaimanapun caranya, ada tantangan walaupun sakit, saya tetap latihan. Karena saya yakin saya bisa. Saya bukan perempuan lemah, saya itu kuat. Saya akan latihan dengan sungguh-sungguh supaya bisa mengibarkan bendera,” jelas dia.

Kini, Julia terus menjalani latihan menjelang upacara HUT ke-81 RI di Kompleks Istana Negara. Ada satu hal yang membuat pencapaiannya terasa semakin emosional: kedua orang tua yang selama ini menjadi sumber motivasinya sudah tidak dapat menyaksikan keberhasilannya secara langsung.

Ibu Julia meninggal dunia pada 2022, sedangkan ayahnya berpulang dua tahun setelahnya.

Meski demikian, kepergian kedua orang tuanya justru menjadi alasan bagi Julia untuk semakin membuktikan bahwa perjuangannya tidak sia-sia. Ia ingin menunjukkan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk menggapai cita-cita.

“Saya akan menunjukkan kepada seluruh masyarakat di Papua, bahwa saya dari Papua Pegenungan bisa mengibarkan bendera pusaka di istana dengan baik dan tidak ada kesalahan satu pun,” jelas dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *