Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita

Ketua Adat Wanam: Budaya Harus Jadi Modal Masyarakat di Tengah Pembangunan

25
×

Ketua Adat Wanam: Budaya Harus Jadi Modal Masyarakat di Tengah Pembangunan

Share this article
Ketua Adat Wanam, Yohanis Agabe Mahuze, menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan dengan penguatan adat, kebudayaan, serta perekonomian masyarakat di Kampung Wanam, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke.

Jakarta – Ketua Adat Wanam, Yohanis Agabe Mahuze, menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan dengan penguatan adat, kebudayaan, serta perekonomian masyarakat di Kampung Wanam, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke.

Menurut Yohanis, kekayaan budaya Wanam tidak semestinya hanya dipandang sebagai warisan leluhur yang perlu dilestarikan. Lebih dari itu, kebudayaan dapat menjadi modal sosial sekaligus ekonomi yang memberikan manfaat bagi masyarakat apabila dikembangkan secara terarah tanpa menghilangkan nilai-nilai adat.

Hal tersebut disampaikan Yohanis dalam Dialog Masyarakat yang melibatkan tokoh adat, pemerintah kampung, masyarakat dan peneliti Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI) di Kampung Wanam.

Ia menilai berbagai potensi seperti kerajinan, pakaian adat, simbol marga dan pengetahuan lokal memiliki nilai yang besar untuk dikembangkan. Namun, pengelolaannya harus tetap berada dalam kendali masyarakat adat.

“Wanam itu adalah brand yang sangat dikenal. Ini adalah harta masyarakat,” ujarnya.

Dokumentasi Budaya Jadi Prioritas

Yohanis melihat Wanam memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai salah satu pusat pembelajaran kebudayaan. Untuk mewujudkannya, langkah awal yang perlu dilakukan adalah memperkuat pemahaman masyarakat mengenai sejarah, norma, simbol dan berbagai praktik adat yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Ia menilai dokumentasi menjadi kebutuhan penting karena banyak pengetahuan budaya selama ini masih disampaikan secara lisan. Pengetahuan tersebut perlu mulai dihimpun, ditulis dan dibukukan agar dapat dipelajari generasi muda sekaligus menjadi sumber informasi bagi masyarakat dari luar Wanam.

Dengan dokumentasi yang kuat, identitas Wanam tidak hanya dikenal melalui nama wilayahnya, tetapi juga melalui sejarah dan kebudayaan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Budaya Bisa Dorong Ekonomi Kampung

Menurut Yohanis, pelestarian adat juga dapat berjalan beriringan dengan pengembangan ekonomi lokal.

Rumah adat, misalnya, dapat dimanfaatkan sebagai ruang edukasi sekaligus tempat bagi pengunjung untuk mengenal kehidupan masyarakat Wanam. Pertunjukan budaya juga dapat digelar secara berkala, sementara masyarakat lokal dapat berperan sebagai pemandu yang menjelaskan sejarah dan nilai adat kepada pengunjung.

Di sisi lain, berbagai kerajinan yang dibuat mama-mama dan masyarakat dapat dikembangkan menjadi produk lokal bernilai tambah.

Jika dikelola dengan baik, kegiatan tersebut bukan hanya membantu menjaga kebudayaan tetap hidup, tetapi juga menciptakan perputaran ekonomi yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat kampung.

Namun, Yohanis mengingatkan bahwa pengembangan tersebut harus berdasarkan kesepakatan masyarakat adat.

Menurutnya, pembangunan tidak boleh membuat masyarakat kehilangan kendali atas identitas, pengetahuan maupun ruang hidup yang menjadi bagian penting dari kehidupan mereka.

Masyarakat Adat Harus Menentukan Arah Pembangunan

Di tengah berbagai agenda pembangunan yang mulai masuk ke wilayah Wanam, penguatan adat justru dinilai semakin penting. Masyarakat perlu memiliki posisi yang kuat untuk menentukan arah perubahan di wilayahnya sendiri.

Yohanis juga mendorong lahirnya kebijakan yang memberikan perlindungan sekaligus keberpihakan lebih besar kepada masyarakat adat.

“Selain kita harus tetap memperkuat nilai-nilai adat, kebijakan yang pro terhadap masyarakat adat juga harus terus kita dorong,” demikian pandangan yang disampaikan dalam dialog.

Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak semata-mata dapat dilihat dari bertambahnya infrastruktur. Pembangunan seharusnya mampu memperkuat masyarakat, menjaga kebudayaan tetap hidup, serta mengoptimalkan potensi lokal untuk kepentingan generasi sekarang dan masa depan.

Dengan demikian, masyarakat adat Wanam tidak hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat pembangunan. Mereka harus tetap menjadi pemilik, penjaga, sekaligus pelaku utama dalam menentukan masa depan kampung dan kebudayaannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *