Jakarta – Tetua marga dan masyarakat adat Wanam mengukuhkan Yohanes Agabe Mahuze sebagai Ketua Adat Wanam melalui prosesi adat di Kampung Wanam, Distrik Wogikel, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, Senin (24/8/2026).
Pengukuhan tersebut menjadi momentum memperkuat konsolidasi masyarakat adat di tengah percepatan pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Wanam. Keberadaan lembaga adat dinilai penting untuk memastikan masyarakat lokal turut menentukan arah perkembangan wilayahnya.
Yohanes menegaskan pembangunan Wanam harus berjalan seiring dengan penguatan kapasitas masyarakat adat. Menurutnya, warga lokal tidak semestinya hanya menjadi penerima manfaat atau objek pembangunan, tetapi harus mendapat ruang sebagai subjek sekaligus pelaku utama.
“Adat harus diperkuat. Masyarakat adat juga harus dibangun agar mampu menghadapi perubahan dan ikut menjadi pelaku dalam pembangunan Wanam,” kata Yohanes dikutip dalam keterangannya, Selasa (25/8/2026).
Ia menyebut pembangunan PSN Wanam berpotensi membawa perubahan besar terhadap kehidupan masyarakat. Kondisi tersebut membuat peningkatan kapasitas warga menjadi hal penting agar masyarakat mampu menghadapi perubahan sekaligus memanfaatkan peluang ekonomi yang tersedia.
Upaya tersebut dapat dilakukan melalui peningkatan pendidikan dan keterampilan, penguatan ekonomi lokal, pemberdayaan pemuda, pengembangan usaha masyarakat, serta pembenahan kelembagaan adat.
“Jangan sampai pembangunan hanya menghadirkan perubahan fisik, sementara masyarakat yang tinggal di wilayah ini tidak memiliki kapasitas untuk mengambil manfaat dari perubahan tersebut,” ujarnya.
Yohanes juga menilai lembaga adat memiliki posisi strategis di tengah masuknya berbagai program pembangunan. Perannya tidak sebatas menjaga tradisi dan budaya, tetapi juga menjadi wadah representasi masyarakat untuk berkomunikasi dengan pemerintah maupun pemangku kepentingan.
Dengan kelembagaan yang kuat, masyarakat adat diharapkan dapat menyampaikan aspirasi secara lebih terorganisasi serta ikut mengawasi dan mengawal proses pembangunan di Wanam.
“Penguatan lembaga adat penting agar masyarakat memiliki wadah untuk menyampaikan aspirasi dan ikut mengawal pembangunan,” katanya.
Selain aspek ekonomi, ia mengingatkan pembangunan Wanam harus tetap memperhatikan keberadaan masyarakat adat, nilai budaya, kelestarian lingkungan, serta hak masyarakat atas wilayah dan sumber daya yang menjadi bagian penting dari kehidupan mereka.
Ia berharap masyarakat lokal memperoleh kesempatan yang lebih luas untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi seiring perkembangan pembangunan di Wanam. Peluang tersebut dapat dikembangkan melalui pelatihan keterampilan, peningkatan kapasitas tenaga kerja lokal, pengembangan UMKM, pemberdayaan pemuda, hingga wisata berbasis adat dan budaya.
Menurut Yohanes, keberhasilan pembangunan tidak cukup hanya dilihat dari besarnya investasi maupun pembangunan infrastruktur. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana pembangunan tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.
“Wanam boleh berkembang dan maju, tetapi adat dan masyarakatnya jangan sampai tertinggal. Pembangunan harus membuat masyarakat adat semakin kuat,” tegasnya.
Masyarakat adat Wanam pun berharap pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan memperkuat komunikasi dengan lembaga adat serta warga setempat. Dialog yang berkelanjutan dinilai penting untuk menyamakan pemahaman mengenai arah pembangunan sekaligus mengantisipasi dampak sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan yang mungkin timbul.













