Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau di wilayah Papua Pegunungan masih akan berlangsung hingga Oktober 2026.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Wamena Ricky R Holle mengatakan kondisi cuaca di wilayah tersebut hingga saat ini masih menunjukkan karakteristik musim kemarau.
“Kita di sini belum masuk musim hujan, masih kemarau, karena pada dasarian tiga meski ada hujan dua hari tetapi volumenya 21 milimeter. Sedangkan volume hujan dalam 10 hari atau satu dasarian volumenya 50 milimeter, masih tetap dikatakan musim kemarau, belum musim hujan,” katanya dikutip dari Antara, Rabu (2/9/2026).
Berdasarkan pemantauan citra satelit, Ricky menyebut musim kemarau diperkirakan bertahan hingga pertengahan Oktober 2026. Setelah itu, Papua Pegunungan diprediksi mulai memasuki periode musim hujan.
“Musim kemarau akan berlangsung hingga pertengahan Oktober 2026 atau memasuki dasarian tiga. Selanjutnya masuk pada musim hujan,” ujarnya.
Ricky juga menjelaskan kondisi tersebut berbeda dengan fenomena El Nino. Menurutnya, El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di atas kondisi normal yang terjadi di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik.
“El Nino akan berlangsung hingga akhir tahun 2026. Peristiwa alam seperti musim kemarau dan El Nino merupakan hal yang berbeda dalam kasus perkembangan cuaca,” katanya.
Di tengah musim kemarau, BMKG juga mencatat adanya ribuan titik api di Papua Pegunungan. Berdasarkan pantauan citra satelit sepanjang Agustus 2026, terdapat sekitar 2.700 titik api yang terdeteksi.
Namun, kondisi tersebut berubah setelah hujan turun selama dua hari pada 30-31 Agustus 2026. Titik api yang sebelumnya terpantau kemudian tidak lagi terdeteksi.
“Pada bulan Agustus 2026 terpantau citra satelit kami itu 2.700 titik api dan hujan dua hari pada 30-31 Agustus 2026 titik api itu menjadi nol atau tidak ada. Di wilayah Papua Pegunungan yang terbanyak terpantau titik api di Kabupaten Jayawijaya, Lanny Jaya dan Tolikara,” ujarnya.
BMKG mengimbau masyarakat tetap mewaspadai dampak musim kemarau, terutama potensi kebakaran lahan dan hutan, sembari mengikuti perkembangan informasi cuaca yang dikeluarkan secara berkala.













