Jakarta – Peneliti Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI), Annas Fitrah Akbar, mendorong pengembangan potensi budaya Kampung Wanam, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, dilakukan secara terencana dan bertahap agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Menurut Annas, sejumlah gagasan yang disampaikan masyarakat, seperti pembangunan pusat kebudayaan, dokumentasi adat, pengembangan kerajinan hingga wisata budaya, memiliki prospek besar. Namun, seluruh ide tersebut perlu disusun menjadi rencana aksi dengan skala prioritas yang jelas.
“Niat yang luar biasa ini jangan langsung nanti membuat kita pusing sendiri. Kita harus bikin dulu perencanaannya. Yang mana ini yang kita dahulukan,” kata Annas dalam Dialog Masyarakat di Kampung Wanam seperti dikutip dalam keterangannya, Rabu (26/8/2026).
Ia menilai dokumentasi kebudayaan menjadi salah satu langkah yang harus diprioritaskan. Sejarah, nilai-nilai adat, pengetahuan lokal serta praktik budaya yang diwariskan antargenerasi perlu dihimpun dan disusun secara sistematis sebelum dikembangkan lebih jauh.
“Yang kita dahulukan, perkuat dokumentasinya dulu. Kita kuatkan kebudayaannya. Kita bentuk bukunya, sambil menyusun tempat kerajinan,” ujarnya.
Jangan Bangun Fasilitas Tanpa Pasar
Selain dokumentasi, Annas menilai pengembangan ekonomi berbasis budaya harus mempertimbangkan kesiapan pasar. Menurutnya, pembangunan fasilitas produksi tanpa perencanaan pemasaran justru berisiko membuat potensi masyarakat tidak berkembang.
“Jangan sampai kita bikin gedung, terus kita bikin anyam-anyam, tidak ada yang beli. Ini perlu kita rencanakan. Kita rencanakan yang mana dahulu,” katanya.
Karena itu, setiap program perlu memiliki fungsi, target, pengelola, serta mekanisme keberlanjutan yang jelas.
Pada tahap awal, masyarakat dapat memetakan potensi budaya, mendokumentasikan adat, mengidentifikasi produk unggulan, meningkatkan keterampilan masyarakat, sekaligus menentukan pola pengelolaan.
Setelah fondasi tersebut terbentuk, pengembangan dapat dilanjutkan melalui pembangunan ruang produksi, perluasan pemasaran, promosi digital hingga penyelenggaraan kegiatan budaya yang mampu menarik pengunjung dari luar Wanam.
Annas juga menekankan pentingnya membedakan target jangka pendek dan jangka panjang agar seluruh program berjalan secara terstruktur.
“Nanti perlu kita susun rencana aksi. Rencana jangka pendeknya apa, jangka panjangnya apa. Jadi terstruktur,” ujarnya.
Masyarakat Adat Harus Menjadi Penentu
Dalam penyusunan rencana tersebut, keterlibatan masyarakat menjadi hal yang sangat penting. Kepala kampung, ketua adat, tokoh masyarakat, mama-mama, generasi muda dan berbagai kelompok masyarakat perlu dilibatkan sejak awal.
Menurut Annas, pendekatan partisipatif diperlukan agar program yang dijalankan benar-benar sesuai dengan kebutuhan serta nilai budaya masyarakat Wanam.
MPSI, kata dia, dapat berperan dalam pendampingan dan membantu menerjemahkan gagasan masyarakat menjadi rencana kerja yang lebih terarah. Meski demikian, keputusan mengenai kebudayaan yang akan dikembangkan tetap harus berada di tangan masyarakat adat.
“Masyarakat adat harus tetap menjadi pihak utama yang menentukan apa yang ingin dikembangkan dan bagaimana kebudayaan tersebut diperkenalkan kepada masyarakat luar,” ujarnya.
Dorong Festival Budaya Tahunan
Salah satu gagasan yang dapat dikembangkan dalam jangka menengah adalah festival budaya tahunan. Kegiatan tersebut dinilai dapat menjadi sarana regenerasi sekaligus memperkenalkan identitas Wanam kepada masyarakat yang lebih luas.
Namun, Annas mengingatkan bahwa konsep festival harus dirumuskan secara matang dan tidak boleh dibuat sekadar untuk kepentingan acara.
“Target kita tahun depan punya festival tahunan. Adat apa yang perlu kita tampilkan, itu harus dirumuskan bersama,” kata Annas.
Ia menilai masyarakat Wanam merupakan pihak yang paling memahami tradisi yang layak ditampilkan sekaligus nilai-nilai adat yang harus tetap dipertahankan.
Dengan perencanaan yang konsisten, bertahap dan tidak terburu-buru, Annas melihat Wanam memiliki peluang menjadi salah satu pusat edukasi budaya di Papua Selatan.
Setiap program, menurutnya, harus memiliki tujuan, pengelola, pasar dan manfaat yang jelas bagi masyarakat. Dengan demikian, pengembangan budaya tidak berhenti sebagai proyek sesaat, tetapi dapat berkembang menjadi kekuatan sosial sekaligus ekonomi.
Pada akhirnya, tujuan pengembangan tersebut bukan sekadar membuat Wanam semakin dikenal. Yang lebih penting, masyarakat adat tetap menjadi pemilik, pengelola dan penerima manfaat utama dari setiap perubahan dan pembangunan yang berlangsung di wilayah mereka.













